BAB 1
PENDAHULUAN
A.
ILmu
Budaya Dasar Sebagai Komponen MBB
Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD) adalah
salah satu mata kuliah kelompok Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB) di
Perguruan Tinggi.Visi kelompok MBB di Perguruan Tinggi merupakan sumber nilai
dan pedoman bagi penyelenggara program studi guna mengantarkan mahasiswa
memantapkan kepribadian,kepekaan sosial,kemampuan hidup bermasyarakat, pengetahuan
tentang pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup.dan mempunyai wawasan
tentang perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Misi kelompok MBB
di Perguruan Tinggi membantu menumbuhkan kembangakan : daya kristis, daya kreatif,
apresiasi, dan kepekaan mahasiswa terhadap nilai-nilai sosial yang :
1.
Besifat demokratis, berkeadaban, dan
menjujung tinggi nilai kemanusiaan, bermatabat, serta peduli terhadap pelestarian daya alam dan lingkungan hidup.
2.
Memiliki kemampuan untuk menguasai
dasar-dasar ilmu pengatahuan, teknologi dan seni, serta
3.
Ikut berperan mencari solusi pemecahan
masalah sosial budaya dan lingkungan hidup
cara arif.
Mata Kuliah ISBD mengetengahkan pengetahuan
dasar tentang konsep-konsep
manusia, konsep-konsep kebudayaan, konsep-konsep
sosiologi, konsep-konsep nilai
moral, dan hukum dan konsep-konsep sains, teknologi,
seni dan lingkungan.
Didalam
Kurikulum, ISBD masuk dalam kelompok bahan kajian yang
diperlukan untuk dapat memahami
kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai
dengan pilihan keahlian dalam berkarya.
Lulusan PT harus memiliki 3 kemampuan:
a.
Kemampuan Akademik : kemampuan
berkomunikasi secara ilmiah,
baik lisan maupun tulisan, menguasai
peralatan analisis, berfikir logis, kritis,
sistematik dan analitik, mampu
merumuskan dan memecahkan masalah.
b.
Kemampuan Profesional: kemampuan dalam
bidang profesi tenaga ahli yang
Bersangkutan.
c.
Kemampuan Personal adalah kemampuan
kepribadian, dengan pengetahuan
mampu menunjukkan sikap, tingkah
laku, dan tindakan yang mencerminkan
kepribadian Indonesia,memahami
nilai-nilai keagamaan,mempunyai kepekaan
terhadap berbagai masalah. ISBD salah
satu mata kuliah sebagai program
pendidikan umum untuk mengembangkan memampuan personal
tersebut.
ISBD sebagai integersi dari ISD dan
IBD memberikan dasar-dasar pengetahuan
sosial dan konsep-konsep budaya
kepada mahasiswa,sehingga mampu
mengkaji masalah
sosial,kemanusiaan,dan budaya,sehingga diharapakan
mahasiswa peka,tanggap,kristis serta berempati
atas solusi pemecahan masalah
sosial dan budaya secara arif.
B.
Masalah
–Masalah Sosial Budaya Masyarakat
Masalah
–masalah sosial telah menghantui manusia sejak adanya
peradaban
manusia karena dianggap sebagai pengganggu kesejahteraan hidup
mereka
sehingga merangsang warga masyarakat
untuk
mengidentifikasi,menganalisis,memahami,dan memikirkan
cara-cara
untuk mengatasinya. Dimana masa lampau,pada waktu belum ada
ahli-ahli
ilmu sosial warga masyarakat umumnya peka terhadap masalah-masalah
sosial
adalah para ahli filasafat,para ahli dan pemuka agama serta para ahli
pollitik
dan kenegaraan.
Masalah-masalah sosial dapat didefenisikan
sebagai suatu kondisi yang
mempunyai
pengaruh terhadap kehidupan sebagian besar masyarakat sebagai suatu
yang tidak diinginkan atau tidak disukai dan
karenanya dirasakan perlunya untuk
diatasi atau diperbaiki. Sebagai
contoh,pedagang kaki lima selalu dianggap
sebagai
masalah sosial di kota-kota, karena menjadi sumber dari berbagai kekacauan
lalu lintas yang akan menjadi sumber utama
kejahatan yang mudah terjadi.
C.
Ruang
Lingkup Ilmu Sosial Budaya Dasar
Untuk dapat memahami posisi Ilmu Sosial Budaya Dasar dalam ilmu
pengetahuan, ada baiknya perlu dipahami terlebih
dahulu pengelompokkan ilmu
pengetahuan menurut prof.Dr.Harsja Bachtiar
(dalam Abdulkadir,Muhammad,2005:1) yang mengeleompokkan
Ilmu dan
pengetahuan menjadi 3(tiga),yaitu:
1. Ilmu-ilmu
Alamiah (natural sciences)
2. Ilmu-ilmu
sosial(Social Sciences)
3. Pengatahuan
Budaya (the Humanities)
Ilmu-ilmu Alamiah bertujuan untuk
mengetahui keteraturan-keteraturan
yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji di
generalisasikan,
kemudian dibuat prediksi. Hasil penelitianya adalah
100% benar atau 100% salah.
Yang termasuk kelompok ini adalah astronomi,fisik,kimia,biologi,mekanika,kedokteran
dan lain
–lain.
Ilmu-ilmu Sosial bertujuan untuk
mengetahui keteraturan-keteraturan yang
terdapat dalam hubungan anatara manusia. untuk
mengkaji hal itu digunakan metode
ilmiah dengan meminjam dari ilmu-ilmu alamiah,tetapi
hasilnya tidak mungkin 100%
salah atau
100% benar. termasuk dalam kelompok
ini.antara lain : ekonomi,sosiologi,politik,demografi,antropologi
sosial.
Manusia sebagai mahluk sosial
berbudaya (homo humanus) artinya,
manusia
itu mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang paling
sempurna, karena sejak lahir
sudah dibekali dengan unsur akal (ratio), rasa(sense)yang membedakan
dengan mahluk lainnya. sebagai mahluk
berbudaya,manusia hanya mampu
mengembangkan diri dan budayanya apabila berhubungan
dengan manusia lain.
BAB
II
KELOMOK
SOSIAL BUDAYA
A.
Pengertian
Sosial Budaya
Istilah
sosial budaya merupakan bentuk gabungan dari istilah sosial dan budaya.
sosial dalam arti
masyarakat, budaya atau kebudayaan dalam arti sebagai semua hasil karya,
rasa dan cipta
masyarakat. Sosial dalam arti luas mencakup segala aspek kehidupan.
oleh karea itu atas
landasan pemikiran tersebut, maka pengertian sistem sosial budaya
Indonesia dapat
dirumuskan sebagai totalitas tata nilai, tata sosial,dan tata laku manusia
Indonesia yang
merupakan manisfestasi dari karya, rasa dan cipta di dalam
kehidupan
bermasyarakat,berbangsa dan bernegara berdasarkan pancasila dan
Undang-Undang Dasar
1945.Dalam hubungan ini, pengertian sosial budaya mencakup
dari dua segi utama
kehidupan masyarakat.
1. Segi Kemasyarakatan
Manusia demi kelangsungan hidupnya harus
mengadakan kerjasama
dengan sesama manusia. pengertian kemasyarakatan
pada hakikatnya adalah
merupakan pergaulan hidup manusia dalam kehidupan
bermasyarakat yang
mengandung nilai-nilai kebersamaan, senasib
sepenanggungan dan solidaritas yang
merupakan unsur pemersatu kelompok sosial.
2. Segi
kebudayaan
Kebudayaan merupakan totalitas cara hidup yang
manifestasinya tampak dalam tingkah
laku yang terlembagakan. Hakikat budaya adalah
sistem nilai yang merupakan
hasil hubungan manusia dengan cipta, rasa dan karsa
yang menumbuhkan
gagasan-gagasan utama serta merupakan kekuatan
pendukung dan penggerak
kehidupan. Fokus budaya dapat berupa nilai dan norma
religius, ekonomi atau
nilai sosial budaya lainnya, seperti ilmu
pengetahuan dan teknologi.
B.
Bentuk Sosial Budaya
Bentuk sosial budaya, artinya setiap kelompok sosial
budaya mempunyai batas-batas yang telah ditentukan berdasarkan tipe kelompok, yang
membedakannya dengan kelompok yang lain. Tipe kelompok dibedakan lagi antara
tradisional alamiah dan yang modern. Tipe
kelompok tradisional alamiah didasarkan pada kesatuan geografis, ikatan
perkawinan, dan hubungan darah, sedangakan tipe kelompok modern didasarkan pada
kepentingan yang sama dan keahlian profesional. Dengan demikian ada 4 (empat)
macam tipe kelompok sosial budaya,yaitu :
1. Tipe
kelompok sosial budaya berdasarkan kesatuan geografis,seperti desa, kota, daerah
aliran sungai,daerah pantai,dan daerah pegunungan.
2. Tipe
kelompok sosial budaya berdasarkan ikatan perkawinan dan hubungan darah, seperti
keluarga dan keluarga besar.
3. Tipe
kelompok sosial budaya berdasarkan kepentingan yang sama, seperti Koperasi, Lembaga
Swadaya Masyarakat, dan Yayasan.
4. Tipe
kelompok sosial budaya berdasarkan kesakliah profesional,
seperti kelompok
profesi dan kelompok pengusaha.
C.
Tujuan
Sosial Budaya
Berdasarkan hakikat keilmuan, maka tujuan ilmu
sosial budaya sadar sebagai bagian dari berkehidupan bermasyarakat adalah :
a. Mengembangkan
kesadaran mahasiswa menguasai pengetahuan tentang keanekaragaman, kesetaraan, dan
kemartabatan manusia sebagai individu dan mahluk sosial dalam kehidupan
bermasyarakatan.
b. Menumbuhkan
sikap kristis, peka, dan arif dalam memahami keragaman, kesederajatan, dan
kemartabatan manusia dengan landasan nilai estetika, etika,dan moral dalam
kehidupan bermasyarakat.
c. Memberikan
landasan pengetahuan dan wawasan yang luas serta keyakinan kepala mahasiswa
sebagai bekal bagi hidup bermasyarakatan,selaku individu dan mahluk sosial yang
beradab dalam memperaktekkan pengetahuan akademik,dan keahliannya serta mampu
memberikan problem solving sosial budaya secara bijaksana.
D.
Perkembangan
Sosial Budaya Indonesia
Kebudayaan itu telah mengalami proses perkembangan
secara bertahap dan berkeseimbangan yang kita konsepkan sebagai evolusi
kebudayaan. Evolusi kebudayaan ini berlangsung sesuai dengan perkembangan
budidaya atau akal pikiran dalam menghadapi tantangan hidup dari waktu ke
waktu. Masa dalam kehidupan manusia dapat kita bagi dua, yaitu masa prasejarah (masa
sebelum manusia mengenal tulisan sampai manusia mengenal tulisan) dan masa
sejarah (masa manusia telah mengenal tulis. Ada dua produk revolusioner hasil
dari akal manusia dalam zaman prasejarah, yaitu:
1. penemuan
roda untuk transportasi
Pada mulanya,roda hanya
digunakan untuk mengangkat barat diatas
batang pohon.
2. Bahasa
Bahasa adalah suara
yang diterima sebagai cara untuk menyampaikan masa prasejarah ini,ada dua
pendekatan untuk membagi zaman prasejarah,yaitu :
1. Pendekatan
berdasarkan hasil teknologi, terdiri dari zaman batu tua (palaeolitikum), zaman batu tengah/madya(mesolitikum), dan zaman batu baru.
2. Pendekatan
berdasarkan model sosial ekonomi atau mata pencaharian hidup yang terdiri atas:
a. Masa
berburu dan mengumpulkan makanan, meliputi masa berburu sederhana (tradisi paleolit)
dan masa berburu tingkat lanjut (tradisi Epipaleolitik).
b. Masa
bercocok tanam,meliputi tradisi Neolitik dan megalitik.
c. Masa
kemahiran teknik atau perundingan, meliputi tradisi semituang perunggu dan
tradisi smituang besi. Pendapat lain membagi periode praperadaban manusia ke
dalam empat bagian, yaitu prapalaeolitik, paraeolitik, neolitik dan era
perunggu dimana manusia tidak lagi sekedar homo
yang hanya menginginkan makanan. Manusia kemudian berkembang dari homo menjadi human karena kebudayaan dan peradaban yang diciptakan. Sedangkan
untuk sejarah kebudayaan di Indonesia, R.Soekmono (1973), yang membagi empat
masa yaitu:
1. Zaman
prasejarah,yaitu sejak permulaan adanya manusia dan kebudayaan sampai kira-kira
abad ke-5 masehi.
2. Zaman
purba,yaitu sejak datangnya pengaruh india pada abad pertama masehi sampai
dengan runtuhnya majapahit sekitar tahun 1500 masehi.
3. Zaman
madya,yaitu sejak datangnya pengaruh Islam menjelang akhir kerajaan majapahit
sampai dengan akhir abad ke-19.
4. Zaman
baru/Modern,yaitu sejak masuknya anasir Barat (Eropa)dan teknik Moder kira-kira tahun 1900 sampai sekarang.
BAB III
PEMUDA DAN SOSIALISASI
A.
Pengertian
Pemuda
Secara umum terdapat pergeseran
mengenai konsep pemuda. Pada dua dekade yang lalu, terminologi pemuda selalu
memiliki makna ideologis. Pemuda, bukanlah sebuah gugus gagasan yang hanya
dibatasi oleh persoalan umur semata. Pemuda, sebagai sebuah konsep, memiliki
dimensi politis. Bennedict Anclerson, misalnya,menyebut bahwa definisi ”pemuda”
selalu dikaitkan dengan dimensi politik. Sejak revolusi kemerdekaan, pemuda
adalah kelompok umur tertentu (15-40 tahun) yang menghabiskan sebagian besar
atau kalau tidak malah semua waktu longgar mereka dalam kegiatan yang
bersifatnya politis.
Bila generasi muda sebelumnya
diklasifikasikan sebagai lapisan masyarakat yang digambarkan sebagai sebuah
generasi yang diisi oleh sosok-sosok yang penuh idealisme, berani berkorban, berani
menderita, dan menjadi pelopor setiap perubahan sosial ataupun politik untuk
kepentingan bangsanya, maka generasi muda sekarang memiliki sosok yang sangat
lain. hasil jajak pendapat kompas terhadap pemuda berusia 16-30 tahun
menujukkan hanya seperempat bagian responden yang menilai generasi muda
sekarang masih idealis, yakni ingin membantu orang yang akan memerlukan dan
yang bercita-cita menjadi pemimpinan di komunitasnya.
B.
Pendidikan
Karakter
Pendidikan karakter di Indonesia
sesungguhnya bukan sesuatu yang baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia.
Beberapa pendidik di Indonesia modern yang mencoba menerapkan semangat
pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa sesuai
dengan konteks dan situasi yang mereka alami antara lain: R.A.kartini, Ki
Hadjar Dewantara, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Moh.Natsir, dll.
Pendidikan
bisa dikatakan berkarakter apabila melibatkan berbagai macam komposisi
nilai(nilai agama,nilai moral, nilai-nilai umum, dan nilai-nilai
kewarganegaraan). secara detail pendidikan karakter memiliki nilai-nilai :
Nilai keutamaan. Manusia memiliki
keutamaan kalau ia menghayati dan melaksanakan tindakan-tindakan yang
utama,yang membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain. sejarah mencatat,
sejak zaman kolonial, bangsa indonesia menempatkan nilai keutamaan, seperti
kesatuan dalam kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa sebagai nilai utama yang diperjuangkan. Para
pahlawan bangsa pendiri bangsa ini lebih
mengutamakan nilai-nilai yang berguna
bagi kepentingan bangsa daripada
kepentingan kelompoknya sendiri. Oleh karena itu
nilai-nilai seperti
kepahlawanan,jiwa pengorbanan, memetingkan kesatuan bangsa daripada
kepentingan kelompok merupakan nilai keutamaan yang memiliki akar tradisi
sejarah yang kuat dalam perjalanan bangsa kita.
Nilai keindahan. Pada masa lalu,
nilai keindahan ditafsirkan terutama pada keindahan fisik, berupa hasil
karya seni ,patung, bangunan, sastra ,dll. Nilai keindahan dalam tataran yang
lebih tinggi menyentuh dimensi interioritas manusia itu sendiri yang menjadi
penentu kualitas dirinya sebagai manusia. Bangsa Indonesia sejak dahulu
memiliki rasa religiositas,rasa seni yang tinggi. Oleh karenanya pengembangan
nilai-nilai keindahan bukan hanya
merupakan sebuah proses berproduksi, dalam arti menghasilkan sebuah obyek seni
saja, namun juga pengembangan dimensi
interioritas manusia sebagai insan yang memiliki kesadaran religius yang
kuat.nilai-nilai estetis dan religiositas ini semestinya menjadi bagian penting
dalam pendidikan karakter di negeri kita.
Nilai adil. Jika ingin berbuat adil,manusia harus
bekerja.penghargaan atas nilai kerja inilah yang menentukan kualitas diri
seorang individu. Menjadi manusia utama adalah menjadi manusia yang bekerja. Untuk
itu butuh kesabaran, ketekunan, dan jerih payah. Jika lembaga pendidikan kita tidak menanamkan nilai
kerja ini individu yang terlibat di dalamnya tidak akan dapat mengembangkan
karakter dengan baik. Bangsa kita adalah sebuah bangsa yang bekerja keras. Dinamika
masyarakat kita yang sebagian besar adalah petani membuktikan adanya etos kerja
itu.
Nilai cinta tanah air(patriotisme). Pendidikan karakter yang
menanamkan nilai-nilai patriotisme secara mendalam tetaplah relevan, mengingat
ikatan batin seseorang senantiasa terpaku pada tanah tumpah kelahirannya, dan
ibu pertiwi yang membesarkannya. Konferensi Asia Afrika, Grakan Nonblok yang
dipelopori soekarno, gerakan kembali nilai-nilai kebudayaan sendiri seperti
yang dialakukan oleh Ki Hajar Dewantara jelas merupakan sebuah
semangat patriotisme mendalam yang merupakan ekspresi dari cinta tanah air
sendiri.
Nilai demokrasi. Nilai demokrasi ini mewarisi pendidikan karakter
ala Atanean. Dikota Atena di masa lalu
sudah terbiasa pemandangan para serdadu berkeliaran dengan menenteng senjata. Kebiasaan
ini pelan-pelan hilang dan tidak
terlihat lagi. Tatanan sosial tidak lagi
didominasi oleh kehadiran militer, melainkan peran serta masyarakat dalam
kehidupan diatur melalui sebuah tata sosial politik yang lebih mengutamakan
dialog dan membangun kebersamaan. Kebersamaan berpikir dan menyampaikan
pendapat merupakan harga mati bagi masyarakat yang demokratis. kehidupan sosial
menjadi lebih baik dan beradab ketika terdapat kebebasan untuk berpikir dan
menyampikan pendapat.
Nilai
kesatuan.Dalam konteks berbangsa dan bernegara di Indonesia, nilai kesatuan
ini menjadi dasar pendirian ini. Apa yang tertulis dalam sila ke-3
pancasila,yaitu persatuan Indonesia,tidak akan dapat dipertahankan jika setiap
individu yang menadi warga negara Indonesia tidak dapat menghormati perbedaan
dan pluralitas yang ada dalam masyarakat kita.Kita mengenal tokoh besar Moh
Hatta(dan juga Gus Dur)yang menyadari bahwa pluraritas di negeri ini tidak
memungkinkan diterapkannya pendekatan dari agama tertentu untuk dicatumkan
menjadi dasar negara.
Nilai moral. Nilai moral ini oleh Socrates diacu sebagai sebuah
panggilan untuk merawat jiwa. Jiwa inilah yang menentukan apakah seseorang itu
sebagai individu merupakan pribadi yang baik atau tidak. Oleh karena itu
nilai-nilai moral sangatlah vital bagi sebuah pendidikan karakter. Nilai-nila
moral yang berguna dalam masyarakat kita tentunya akan semakin efektif jika nilai ideologi bangsa yaitu nilai moral dalam pancasila menjadi jiwa
dalam setiap pendidikan karakter.Tanpa penghayatan nilai-nilai yang terkandung
dalam pancasila, bangsa kita akan berada di ambang kehancuran,dan masyarakat
kita yang bhinika tidak akan merasa sebagai kesatuan.
Nilai-nilai kemanusiaan. Menghayati
nilai-nilai kemanusiaan mengandaikan sikap keterbukaan terhadap kebudayaan
lain, termasuk disini kultur agama dan keyakinan yang berbeda. Nilai-nilai kemanusiaan
ini menjadi sangat relevan diterapkan dalam pendidikan karakter karena masyarakat
kita telah mendadi masyarakat global. Oleh karena itu semangat kewarganegaraan
yang ingin ditanamkan dalam pendidikan karakter pun tidak mencukupi jika hanya
berdasarkan batas-batas lokal negara,yang merupakan patriotisme sempit, melainkan
mesti membantu sikap individu untuk dapat hidup secara kompeten sesuai dengan
tuntutan masyarakat globl, sebuah patriotisme bagi kemanusiaan yang mengatasi
batas-batas negara.
C.
Menuju
Pendidikan Berkarakter
Pendidikan
karakter di lembaga pendidikan(formal)lebih banyak berurusan dengan penanaman
nilai. Pendidikan karakter agar dapat disebut sebagai integral dan utuh mesti
juga menentukan metode yang akan
dipakainya,sehingga tujuan pendidikan karakter itu akan semakin terarah dan
efektif.
Metode yang bisa digunakan untuk membantu
mencapai idealisme dan tujuan pendidikan karakter di lembaga pendidikan.
Mengajarkan. Untuk dapat melakukan yang
baik,yang adil,yang bernilai, kita pertama-tama perlu mengetahui dengan jernih
apa itu kebaikan,keadilan,dan nilai. Pendidikan karakter mengandaikan
pengetahuan teoritis tentang konsep-konsep nilai tertentu. Lebih dari itu sebuah tindakan dikatakan sebagai
tindakan yang bernilai jika seseorang
itu melakukanya dengan bebas, sabar dan dengan pengetahuan yang cukup tentang
apa yang telah dilakukannya. Ini mengandaikan adanya sikap reflektif atas
tindakan sadar manusia. Untuk itulah salah satu unsur penting dalam pendidikan
karakter adalah mengajarakan nilai-nilai itu sehingga generasi muda memiliki
gagasan yang konseptual nilai-nilai pemandu perilaku yang bisa dikembangkan
dalam mengembangkan karakter pribadinya.
Keteladanan. Keteladanan
memang menjadi salah satu hal yang klasik bagi berhasilnya sebuah tujuan
pendidikan karakter. Guru yang ada dalam bahasa jawa berarti digugu lan
ditiru , sesungguhnya menjadi jiwa bagi pendidikan karakter itu
sendiri. Tumpuan pendidikan karakter ini ada di pundak guru. Konsistensi dalam
mengajarkan pendidikan karakter tidak sekedar melalui pembelajaran di dalam
kelas,melainkan nilai ittu tampil dalam diri samg guru, dalam keidupannya yang
nyata di luar kelas.karakter guru menentukan (meskipun tidak selalu) warna
kepribadian anak didik.
Menentukan prioritas. Lembaga
pendidikan umumnya memiliki prioritas dan tuntutan dasar atas karakter yang
diterapkan di lingkungan mereka. Jika suatu lembaga pendidikan menentukan suatu
prioritas dalam pendidikan mereka adalah standar keilmuan,maka berhasil tidakya
kriteria itu mesti dapat dibuktikan melalui transparansi laporan perkembangan
kemajuan kemampuan akademik anak didik di hadapan para pemangku kepentingan (orang tua dan masyarakat). Demikian
pula jika suatu lembaga pendidikan ingin menentukan sekumpulan perilaku
standar, perilaku-perilaku standar yang menjadi prioritas khas lembaga
pendidikan tersebut mestinya dapat diketahui dan dipahami oleh anak didik, orang
tua, dan masyarakat. Tanpa adanya prioritas yang jelas proses evaluasi atas
berhasil tidaknya pendidikan karakter akan menjadi tidak jelas. Oleh karena itu
prioritas akan nilai pendidikan karakter ini mesti dirumuskan dengan jelas dan
tegas, diketahui oleh setiap pihak yang terlibat dalam proses pendidikan
tersebut. Sebagai lembaga publik sekolah memiliki tanggung jawab moral untuk
secara transparan memberikan laporan pertanggungjawaban kinerja pendidikan
mereka kepada pemangku kepentingan, yaitu masyarakat luas.
Praktis prioritas. Untuk lain bagi pendidikan karakter adalah bukti
dilaksanakannya prioritas nilai pendidikan karakter tersebut. Berkaitan dengan
tuntutan lembaga pendidikan atas prioritas nilai yang menjadi visi kinerja
pendidikannya, lembaga pendidikan mesti mampu membuat verifikasi sejauh mana
visi sekolah tersebut telah dapat direalisasikan dalam lingkup pendidikan
melalui berbagai macam unsur yang ada di dalam lembaga pendidikan itu sendiri.
Adanya verifikasi di lapangan tentang karakter yang dituntutkan itu, misalnya
bagaimana sikap terhadap pelanggaran atas kebijakan sekolah. Bagaimana sanksi
itu diterapkan secara transparan sehingga menjadi praktis kelembagaan. Realisasi
visi dalam kebijakan sekolah merupakan karakter itu di hadapan publik.
Refleksi. Refleksi merupakan kemampuan
sadar khas manusiawi. Dengan kemampuan sadar ini, manusia mampu mengatasi diri
dan meningkatkan kualitas hidupnya dengan lebih baik. Jadi setelah tindakan dan
praktis pendidikan karakter itu terjadi, perlulah diadakan semacam
pendalaman,fefleksi. Untuk melihat sejauh mana lembaga pendidikan telah
berhasil atau gagal dalam melaksanakan pendidikan karakter. Sebab dikatakan
Socrates,’’ hidup tidak direfleksikan merupakan hidup yang tidak layak
dihayati. ‘’Tanpa ada usaha untuk melihat kembali sejauh mana proses pendidikan
karakter ini direfleksi, dievaluasi, tidak akan pernah terdapat kemajuan.
BAB IV
KEBUDAYAAN,PERADABAN
DAN SISTEM NILAI
BUDAYA
A.
Kebudayaan
Kebudayaan berasal dari
kata’’budaya’’, yang berasal dari kata Sankerta ‘’budhayah’’, sebagai
bentuk jamak dari buddhi, yang berarti
budi atau akal. Kebudayaan adalah hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau
akal. Banyak definisi tentang Kebudayaan.(coba ciri definisi-definisi
tersebut). Koentjaraningrat memberikan karya itu’’. Atau dengan kata lain bahwa
kebudayaan itu adalah keseluruhan dari apa yang pernah dihasilkan oleh manusia
karena pemikiran dan karyanya. Jadi kebudayaan merupakan produk budaya.
a. Wujud
Kebudayaan
Ralp Linton, membaginya menjadi
wujud phisik dan non phisik. sedangkan Koentjaranigrat membagianya ke dalam tiga wujud, yaitu wujud
ideal: yaitu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan
dan sebagainya yang berfungsi mengatur, mengendalikan dan memberi arah kepada
kelakuan manusia, serta perbuatan manusia dalam masyarakat,maka sering disebut ’’adat
tata cara’’.
b. Wujud
Sistem Sosial
Yaitu kompleks aktivitas kelakuan
berpola dari manusia dalam masyarakat. Sistem sosial terdiri dari rangkaian
aktivitas manusia dalam masyarakat yang selalu mengikuti pola-pola tertentu
berdasarkan adat tata kelakuan misalnya gotong-royong,kerjasama.
c. Wujud
Kebudayaan Fisik
Yaitu benda-benda hasil karya manusia,
misalnya pabrik, komputer, candi
Borobudur dan lain-lain.
B.
Perwujudan
Kebudayaan
Dimana-mana manusia itu pada
dasarnya adalah sama, karena manusia dibekali oleh penciptanya dengan akal, perasaan,
dan kehendak di dalam jiwanya. Yang membedakan adalah perwujudan budaya menurut
keadaan, waktu, dan tempat, atau perwujudan budaya dengan menekankan pada akal,
perasaan, dan kehendak sebagai kesatuan, atau hanya menekankan pada akal saja(ratio), dengan mengabaikan
perasaan.perbedaan itu nantinya akan menyebabkan munculnya pengertian peradaban
(civilization) dan kebudayaan (culture).
Menurut Sultan Takdir Alisyahbana, apabia perwujudan
budaya itu penekanannya pada akal (mind),
maka akan menimbulkan tingkat peradaban yang berbeda. Mind selalu dihubungkan dengan civilization, bukan
culture, maka ada yang disebut peradaban tinggi dan peradaban rendah, karena
alat ukurnya adalah akal dan pikir manusia. Manusia yang berfikir tinggi
dikatakan peradabannya tinggi, dan sebaliknya. Tingkat berfikir tinggi lebih
dahulu timbul kalangan orang barat, maka orang mengatakan bahwa orang barat
mempunyai peradaban yang tinggi, bukan kebudayaan yang tinggi.
C.
Sistem
Nilai Budaya
Nilai adalah segala
sesuatu tentang yang baik atau yang buruk. Nilai adalah segala sesuatu yang
menarik bagi manusia sebagai subyek. Nilai adalah perasaan tentang apa yang
boleh dan yang tidak boleh.
Konsep-konsep tentang
nilai yang hidup dalam alam pikiran
sebagian besar warga masyarakat,membentuk sistem nilai budaya. Sistem nilai budaya berfungsi sebagai pedoman
tertinggi bagi kelakuan manusia, dalam tingkatan yang paling abstrak.
Sistem-sistem tata kelakuan yang
tingkatannya lebih konkrit, seperti aturan-aturan khusus, hukum, norma-norma,
semuanya berpedoman pada sistem budaya itu. Sistem nilai budaya itu demikian
kuat meresap dalam jiwa warga masyarakat, sehingga sukar ganti dengan
nilai-nilai budaya lain dalam waktu singkat.
Ahli antropologi Kluckhohn,
membagi sistem nilai budaya ke dalam lima masalah:
1. Hakekat
hidup masyarakat
2. Hakekat
karya manusia
3. Hakekat
kedudukan manusia dalam ruagan dan waktu
4. Hakekat
hubungan manusia dengan alam
5. Hakekat
hubungan manusia dengan sesamanya
BAB V
MANUSIA DAN CINTA KASIH
A.
Pengantar
Kasih
sayang sudah dikenal sejak lahir dan bahkan sejak anak ada dalam
kandungan.kasih sayang berkembang seirama dengan perkembangan anak menuju
kedewasaan. Dalam hidupnya kadang-kadang
kasih sayang ini ternoda oleh perbuatan-berbuatan keji yang berlawanan dengan
perbuatan kasih sayang.
Cinta kasih orang tua
terhadap anak itu adalah cinta yang disertai dengan kasih sayang. Cinta kasih ini diberikan secara tulus dan
ikhlas seolah-olah anak itu merupakan bagian dari dirinya sendiri. Seorang anak yang tak pernah mendapatkan kasih sayang
dari orang tuanya kemungkinan
besar ia akan hidup liar. Cinta yang
dirasakan orang tua terhadap anaknya
didasar atas segi pengabdian dan segi kesukaan.
Kecintaan orang tua atau
ayah dan ibu terhadap anaknya didasarkan atas kerapuhan hati, sebab orang tua
mempunyai maksud tertentu terhadap anaknya, yaitu sukses dalam bimbingan atau
pendidikan yang diujudkan dalam pergualan orang tua terhadap anaknya. Maka dari
itu betapapun buruknya karakter maupun perbuatan orang tuanya, namun cita-cita yang dibimbingkan kepada
anaknya berujud pendidikan untuk menuju kepada ke ’’utama’’an.
B.
Pokok
Bahasan
1.
Arti,Hubungan,Ungkapan
Cinta Kasih
a.
Arti Cinta Kasih
Cinta kasih merupakan
paduan dua kata yang mengandung arti psikologis yang dalam, yang sulit didefinisikan dengan rangkaian
kata-kata. Mungkin dapat diberi arti tertentu apabila sudah diwujudkan dalam
tingkah laku manusia terhadap manusia lainnya, atau terhadap alam sekitarnya, atau
terhadap Tuhan. Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang
paling sempurna dibandingkan
dengan mahluk-mahluk lain. Manusia mempunyai akan, perasaan, kehendak. Dengan
unsur-unsur budaya ini manusia menilai, merasakan, menghendaki adanya kebutuhan
cinta kasih. Apabila cinta kasih itu tidak ada, atau tidak dibutuhkan, sulit digambarkan
adanya masyarakat, sulit dibayangkan perkembangan manusia penghuni bumi
ini, dan sulit adanya kedamaian diantara
manusia.
b.
Hubungan
Cinta Kasih
Adanya beberapa macam hubungan
cinta kasih yang dibekas dalam bab ini, yang dirinci sebagai berikut:
·
Cinta kasih antara orang tau dan anak.
Apabila seorang ibu atau ayah selalu ingat, memperhatikan, dan memenuhi
kebutuhan wajar anaknya, dikatakan bahwa mereka mempunyai rasa cinta kasih atau
kasih sayang terhadap abak. Orang tua mengharapkan agar anak menjadi orang baik
dan berguna kemudian hari.
·
Cinta kasih antara pria dan wanita.
Apabila seorang pria perjaka menaruh perhatian istimewa terhadap seorang gadis dengan perlaku dengan baik, lemah, lembut,
sopan, apalagi dengan memberikan seuntai mawar merah, dikatakan bahwa ia
menaruh cinta kasih atau kasih sayang
terhadap gadis itu.
·
Cinta kasih antara sesama manusia. Apabila seorang sahabat
berkunjung ke rumah kawannya yang sedang sakit dan membawa obat yang
diperlukannya atau makanan yang
diinginkannya, dikatakan bahwa sahabat itu menaruh cinta kasih atau balas
kasihan terhadap kawannya yang sakit itu.
·
Cinta kasih antara manusia dan Tuhan.
Apabila taat beribadah , menuruti perintah Tuhan, dan menjauhi laranganNya, dikatakan bahwa
orang itu mempunyai cinta kasih atau
mengabdikan kepada Tuhan penciptanya.
·
Cinta kasih manusia terhadap
lingkungannya. Apabila seseorang
meciptakan taman yang indah, memelihara taman pekarangan, tidak menebang kayu
di hutan seenaknya, tanah gundul ditanam kembali dengan teratur, hewan lingkungannya tidak diburu atau dibunuh
tanpa manfaat, dikatakan bahwa orang itu menaruh cinta kasih atau menyayangi
lingkungannya.
c.
Ungkapan
Cinta Kasih
Sebagaimana telah dikemukakan
sebelumnya bahwa cinta kasih adalah ungkapan perasaan yang diwujudkan dengan
tingkah laku, seperti dengan kata-kata
atau pernyataan, dengan tulisan, dengan gerad, atau dengan media
lainnya. Ungkapan dengan kata-kata atau pernyataan, misalnya Aku cinta padamu, tidurlah
sayang, jauh di mata dekat dihati, cintaku di kampus biru. Ungkapan dengan
tulisan misalnya surat cinta,surat ibu kepada putri tersayang. Ungkapan dengan
gerak, misalnya salaman pelukan, ciuman dan rangkulan. Ungkapan media, misalnya
setangkai bunga, benda sovenir dan benda kado. Ungkapan-ungkapan ini selain dalam
bentuk nyata, juga dalam bentuk karya
budaya, misalnya seni suara, seni satra ,seni drama, film dan seni lukis.
Orang yang mempunyai
perasaan cinta kasih, hidupnye penuh gairah, banyak inisiatif, dan penuh kreatif bagi seniman pelaku cinta kasih dituangakan
dalam bentuk karya budaya, sehingga dapat dinikmati pula oleh masyarakat.
Dengan demikian masyarakat dapat memetik nilai-nilai kemanusiaan yang terungkap
melalui karya.
2.
Cinta
Kasih Antara Orang Tua dan Anak
Cinta kasih ini
bermula dari seorang itu terhadap anaknya. Seorang ibu yang sedang menyusui
anaknya adalah gambaran tentang ketulusan dan cinta kasih. Tugas untuk
mewujudkan cinta kasih yang tulus itu berlangsung lama, dan penuh pengorbanan.
Apabila tugas terpenting keluarga adalah mengasuh dan membesarkan serta
mendidik anak, maka sebenarnya
ibu adalah tokoh utama dalam unit sosial terkecil itu. Dalam hal ini, sorga di
bawah kaki ibu adalah ungkapan ajaran agama yang menyatakan betapa penting
peran ibu dalam tugas tersebut. Ibu membuktikan bahwa dunia ini membutuhkan
cinta kasih dan ketulusan. Tanpa cinta kasih, keluarga akan goyah,masyarakatpun
akan goyah. Demikian diungkapkan oleh Sapardi Djoko Damono.
Dalam hubungan
cinta kasih antara ibu dan anak, sejak anak masih bayi sudah dapat merasakan
kasih sayang ibunya melalui sentuhan tangan, pelukan, dan elusan ibunya, kemudian
disusul dengan suguhan susu ibu. Anak
ditidurkan dengan diiringi lagu menidurkan.. pendidikan dalam diri anaknya. Di
sini peran ibu cukup besar dan wajar.
3.
Cinta
Kasih antara Pria dan Wanita
Cinta kasih
antara pria dan wanita merupakantitik awal timbulnya keluarga sebagai unit
masyarakat terkecil dan berkembang biak umat manusia di muka bumi ini. Cinta
kasih antara pria dan wanita yang sudah dewasa
(akil balig) merupakan kodrat
yang tidak dapat dimunykiri, dan harus ada. Atas dasar cinta kasih ini timbul
perpaduan hidup antara pria dan wanita yang harmonis dalam bentuk perkawinan
yang dihargai oleh agama, hukum, dan oleh masyarakat.
Cinta kasih
yang lulus antara satu sama lain dalam ikatan perkawinan yang harmonis
dilandasi oleh perasaan sayang. Kemesraan, yang merupakan kunci kebahagiaan.
Apabila perkawinan itu dilandasi oleh kasih
sayang yang tulus dan ikhlas, kasi mengasihi, dan saling
menumpahkan kasih sayang, keluarga itu
akan tumbuh subur dan berkembang sempurna. Dalam cinta kasih antara pria dan
wanita ini kedua pihak dituntut tanggung jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya,
saling mengerti, dan keterbukaan, sehingga
keduannya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh.
4.
Cinta
Kasih antara Sesama Manusia
Cinta kasih antara sesama
manusia dilandasi oleh rasa balas kasihan. Balas kasihan ini timbul karena ada
penderitaan yang dialami manusia. Penderitaan ini mengandung pengertian yang
luas, misalnya penderitaan karena bencana alam, bencana perang, karena sakit, karena sudah tua, karena yatim piatu, dan lain-lain. Dalam cinta kasih berdasarkan
belas kasihan ini tidak dikenal unsur pamrih, melainkan karena keikhlasan
semata-mata, sifat ingin menolong sesama, dan belas kasihan ini adalah sifat orang-orang
yang berakhlak dab
berbudi. Apa yang diderita orang lain, ia ikut pula merasakan penderitaan itu.
Cinta
kasih yang dilandasi belas kasihan merupakan dasar untuk meniptakan
kebersamaan, perdamaian, dan saling menghargai. Kebersamaan yang kita maksudkan adalah kebersamaan secara
kodrati, manusia diciptakan Tuhan dan dibekali dengan hak asasi yang sama.
Dalam kebersamaan itu ada kesediaan dan ketulusan membantu, menyelamatkan
manusia yang sedang dalam penderitaan. Apabila cinta kasih antara sesama
manusia ini dihayati sungguh-sungguh oleh setiap insan, terutama yang berkuasa
di muka bumi ini,maka tidak akan adaa perang, tidak akan ada kemeraratan dan
kemiskinan.
5.
Cinta
Kasih antara Manusiaa dan Tuhan
Kecintaan
manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dan kehidupan manusia. Manusia adalah
mahluk ciptaan Tuhan, karena itu manusia merasa takut kepada Tuhan. Jika
manusia mengabaikan perintah Tuhannya, ia akan memperoleh murka. Untuk itu
manusia menaruh cinta kasih kepada Tuhannya, untuk wujud
cinta kasih kepada Tuhan ialah pengabdian pemujaan atau sembayang. Dalam cinta kasih
kepada Tuhan itu tersimpul keprasahan dan keikhlsan berserah diri bahwa
pengabdian, pemujaan, sembayang semata-mata karena Tuhannya, karena Tuhan Maha
Pencipta dan Maha Kuasa atas segala
BAB
VI
MANUSIA
DAN KEADILAN
A.
Pengantar
Setiap mausia pastilah mendambakan keadilan,karena keadilan sungguh
merupakan suatu yang sangat esensial di dalam kehidupan insane beradab. Begitu
pentingnya keadilan dan begitu tinggi nilai keadilan itu, sehingga kata
keadilan itu selalu diserangkaikan dengan kara keberanian. Perjuangan hidup
manusia yang sangat penting adalah menegakkan keadilan dan kebenaran.
Semboyan itu pernah dipakai oleh orde baru, dan jauh sebelum itu, kita
pun telah mengenal
menuju masyarakat adil dan makmur berdsarkan pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab.
Keadilan social bagi seluruh rakya
Indonesia. Memang, keadilan begitu tinggi nilainya bagi kehidupan
manusia, sebab dengan terlaksananya keadulan itulah
manusia bisa benar-benar merasa bahwa dirinya adalah
manusia.
B.
Keadilan
Dimanapun dan pada persoalan apapun dalam kehidupan manusia, keadilan merupakan dambaan setiap insan. Tetapi
kenyataanya lebih banyak orang yang mengatakan, bahwa dirinya telah berbuat adil
tanpa melihat apakah adilnya itu telah dirasakan orang lain. Memang, keadilan
itu lebih mudah diucapakan, tetapi sulit untuk dilaksanakan dan dirumuskan
pengertiannya. Keadilan tidak saja dituntut dari manusia, kadang para umat pun
menuntut keadilan dari Tuhannya.
1.
Pengertian
Keadilan
a. Aristoteles
Menurut Aristoteles keadilan
adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan dalam tindakan manusia.
Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara kedua ujunng ekstrem (diantara
dua kutub), yakni ujung yang teralu banyak ujung yang telalu sedikit. Kedua ujung ekstrem itu
menyangkut dus orang atau benda. Bila dua orang itu mempunyai kesamaan
dalam ukuran yang telah diterapkan, maka
masing-masih orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama. Kalau tidak
sama, maka masing-masing orang akan menerima bagian tidak sama, sedangkan
pelanggaran terhadap proporsi tersebut berarti ketidakadilan.
b. Plato
Plato memproyeksikan keadilan
pada diri manusia, sehingga orang dikatakan adil apabila orang itu mampu
mengendalikan diri dan perasaanya dengan akalnya (dengan rasionya).
c. Socrates
Socrates memproyeksi keadilan pada
pemerintahan. Menurut socrates, keadilan tercipta bilamana setiap warga negara
telah merasakan , bahwa pemerintah telah melaksanakan tugasnya dengan baik.
Mengapa keadilan diproyeksikan pada pemerintah, karena pemrintah adalah pemimpin pokok yang menentukan
dinamika masyarakat masyarakat.
d. Kong
Hu Chu
Kong Hu Chu berpendapat lain. Menurut dia,’’ keadialan itu terjadi
apabila anak sebagai anak, bapak sebagai
bapak, dan raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan
kewajibannya
e. Charles
E.Merriam
Charles E.Merriam dalam bukuna systematic
politics menghubungkan dengan tujuan Negara. Menurut Merriam,’’ Keadilan
terwujud dalam system di mana terhadap saling
pengertian dan prosedur-prosedur yang memberikan kepada setiap orang apa
yang telah disetujui dan telah dianggap patut. Dari keadilan tersebut Merriam mengumpamakan
adanys system nilai dalam hubungan individu di dalam mayarakat agar
individu setiap individu/setiap orang
memperoleh bagianya berdasarkan nilai-nilai tersebut. Karena system nilai itu
dipakai dalam kehidupan bernegera, maka keadilan sebagai nilai sering tidak
dapat berjalan sebagimana mestinya. Untuk itulah dibentuklah penjaga keamanan
dan keterbiban negara,seperti: kepolisian, militer, dan badan-badan
peradilan/kehakiman badan penegak hukum. (contoh peristiwa : masalah jual beli
tanah, kontrak rumah, dan lain-lain).
f. Prof
I.R. Poedjowojoto
Secara umum menurut prof I.R.
Poedjowojoto,’’ keadilan adalah pengakuan
dan perlakuan terdapat yang sah’’ Disini
keadialan dihubungkan dengan gak, karena hak itu merupakan wewenang dan bukan
berwujud kekuatan, tentu saja yang lemah
tidak akan pernah menerima haknya.
g. Keadilan
menurut Ajaran Agama
Agama mempunyai ajaran-ajaran tentamg keadilan. Pelanggaran terhadap
salah satu atau sebagian besar terhadap larangan-larangan agama akan berakibat
dosa, misalnya korupsi, menumpuk kekayaan yang sebenarnya hasil pengambilan
tidak sah dari milik orang lain (terutama dari mereka yang lemah dan tidak tahu
haknya). Pengadilan terhadap doa itu dilaksanakan di akhirat nanti. Namun bagi
umat beragama dosa tersebut dirasakan sebagai hukuman yang lebih berat
dibandingkan sanksi hukuman pengadilan
di dunia.
(contoh: Sinetron TV berjudul ’’Mahkamah’’)
h. Keadilan
dan Hasil Seni
Jelaskan bagi kita bahwa keadilan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Itulah sebabnya maka peristiwa-peristiwa keadilan dapat
menimbulkan dava kreativitas para seniman untuk menciptakan karya seni, sehingga
banyak kita jumpai hasil-hasil seni yang mengekpresikan keadilan.
Peristiwa keadilan juga
sering kita lihat, kita dengar atau kita baca dari media massa, seperti:
1. Mayat
rerpotong-pc:onq di jakarta dan sukabumi
2. Peristiwa
sengkon den karta
3. Proses
pengadilan penyelundup kelas kakap
4. Atau
kemukakan contoh-contoh peristiwa yang baru terjadi.
2.Berbagai Macam Keadila
a. Keadilan
Legal atau Keadilan Moral
b. Keadilan
Distributif
c. Keadilan
Komutatif
3. Keadilan sebagai Kebutuhan Naluri
Manusia
Jhon
Locke mengemukakan bahwa manusia itu mempunyai hak-hak alamiah yang dimilikinya
semenjak lahir. Hak alamiah ini:
1. Hak
akan hidup
2. Hak
akan kebebasan atau kemerdekaan
3. Hak
akan milik,hak akan memilik sesuatu
Di antara ketiga hak alamiah itu yang
terpenting adalah hak akan hidup. Dari hak akan hidup itulah kemudian muncul
hak-hak yang lain,yang saat ini dinamakan hak azasi manusia. Masalah keadilan selalu membicarakan sejauh mana
individu itu mendapatkan hak-haknya sesuai dengan kewajiban yang telah
dipenuhinya.
Hak-hak yang timbul dengan adanya
hak-hak azasi itu antara lain:
1. Personal
Right(hak azasi pribadi)
2. Property
Right (hak azasi ekonomi, hak memiliki sesuatu, hak membeli/menjual
barang-barang miliknya dan lain-lainnya.
3. Rights
of legal eguality (hak untuk memperoleh
perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintah.
4. Political
Right (hak azasi, politik, hak untuk ikut serta dalam pemerintah, hak dipilih
memilih dan lain-lain).
5. Social
and Culture Rights (hak utuk memilih jenis dan jenjang pendidikan serta mengembangkan kebudayaan
untuk disukai).
6. Procedure
right (hak untuk mendapatkan perlakuan ata tatacara peradilan dan perlindungan,
misal penangkapan, penahanan, penggeledahan dan lain-lain).
Hak-hak azasi ini
kemudian pada tanggal 10 desemeber
1948 ditulis dalam piagam yang
memuat 30 pasal diterima sebagai’’ Universal Declaration of Human Right’’(pernyataan sedunia tentang
hak-hak azasi manusia).
1. Cornpetifo,
yaitu sifat untuk behomba menguasai manusia yang lain,karena adanya rasa takut
dan khawatir ia tidak akan mendapatkan pujian. Dalam hal ini dapat menggunakan
cara apapun.
2. Defentio,
yaitu sifat untuk mempertahankan diri dari membela diri. Ini berarti bahwa
manusia tidak suka dikuasai atau diatasi orang lain. Sifat membela diri ini
merupakan cara dan jaminan untuk menyelamatkan dirinya.
3. Gloria
, yaitu sifat untuk dihormati , disegani dan dipuji : disamping sifat-sifat lemah, serta takut mati, ingin
memiliki sesuatu dan ingin mempunyai kesempatan untuk bekerja, agar dapat
memiliki sesuatu. Adanya kelemahan manusia tersebut diatas, lebih-lebih rasa
takut tersebut,membuat manusia mau diatur, dan mau dipaksa untuk berkumpul, membentuk
satu masyarakat dan negara.
4.
Pengertian
Keadilan Sosial
Sila kedua dari kelima
dari pancasila merupakan serangkaian kata yang mempunyai arti tersendiri. Keadilan
sosial mempunyai satu arti yaitu social justice, yang sangat eret behubungan
dengan suatu isme, ajaran atau pandangan hidup. Kata keadilan sosial dan
kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung makna gotong-royong, jadi tidak
ada hubungannya dengan keadilan kumutatif atau keadilan distriburif, walau
azasnya tetap bersumber pada pengertian keadilan seperti dijelaskan di depan.
Keadilan sosial
pengertiannya juga untuk kepentingan sosial, kepentingan bersama, kepentingan
komunal. Gotong-royong mempunyai arti suatu usaha bersama, pelaksanaan bersama
atau mengerjakan suatu peranan bersama yang hasilnya dimanfaatkan untuk
kemakmuran bersama. Di dalam suatu negara, kemakmuran bersama atau
kesejahteraan sosial dan tercapai jika ada keadilan sosial.
BAB VII
MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB
A.
Pengantar
Hidup
manusia di samping sebagai mahluk Tuhan dan mahluk individu, juga merupakan
mahluk sosial, hidup dalam lingkangan masyarakat. Di dalam interaksi sosial
manusia diberi tanggung jawab, ia di samping
memiliki hak juga memiliki kewajiban, dituntut adanya pengabdian dan
pengorbanan.
Seseorang mau bertanggung
jawab karena adanya keasadaran atau adanya keinsyafan atau pengertian atas
segala perbuatan atau akibat dari atas kepentingan pihak lain. Kesadaran atau
keinsyafan manusia. Sebagai mahluk yang beradab dan berbudaya manusia menilai
dan dinilai. Oleh sebab itu menyadari atau menginsafi atau mengerti bahwa
perbuatan da akibatnya itu benar atau tidak benar, patut atau tidak patut, baik, atau tidak baik,
dilakukan pertimbangan-pertimbangan sebelum dilakukan
Tanggung jawab itu bersifat
kodrati, artinya sudah menjadi bagian hidup manusia, bahwa setiap manusia
dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau bertanggung jawab maka ada
pihak lain,yang memaksa tanggung jawab itu. Dengan demikian tanggung jawab iu
dapat dilihat dan dua sisi, yaitu dan sisi pihak yang berbuat dan dari sisi
kepentingan pihak lain. Dan sisi pembuat ia harus menyadari akibat perbuatannya
itu, dengan demikian tanggung jawab yang harus mengembalikan ke dalam keadaan
yang baik. Dari sisi pihak lain akan mengembalikan (memulihkan) baik dengan
cara individual maupun dengan cara memasyarakatan.
B.
Tanggung
jawab
a.
Pengertian
Tanggung Jawab
Banyak konsep atau difinisikan atau batasan
pengeran mengenai tanggung jawab antara lain:
Pengertian tanggung
jawab menurut Ensikplopedi umum adalah’’ kawajiban dala melakukan tugas
tertentu’’ Menurut WJS.Poewodarminto, tanggung jawab adalah : ’’suatu yang
menjadi kewajiban (keharusan) untuk dilaksanakan, dibahas dn sebagainya’’.
Sedangkan menurut Drs Suyadi MP dalam bukunya ilmu budaya Dasar, mengatakan : Tanggung
jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang
disengaja maupun yang tidak disengaja, tanggung jawab juga berarti berbuat
sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya’’.
Dari segi filsafat, suatu tanggung jawab
itu paling sedikit didukung oleh (tiga) unsur, yaitu:
1) Kesadaran=cosciouness
Sadar berisi
pengertian: tahu, kenal, mengerti dapat memperhitungkan arti, guna sampai
kepada soal akibat dari pada sesuatu perbuatan atau pekerjaan yang dihadapi.
Seseorang baru dapat dimintai tanggung jawab, bila ia sadar tentang apa yang
diperbuatanya.
2) Kecintaan=love,
affestion
Cinta, suka menimbulkan
rasa kepatuhan, kerelaan dan kesedihan untuk berkorban Contoh: cinta kepada
tanah air.
3) Keberanian=courage,
bravery
Berani berbuat, berani
bertanggung jawab. Berani disini didorong oleh rasa keikhlasan, tidak bersikap
ragu-ragu dan takut terhadap segala macam rintangan yang timbul kemudian
sebagai konsekuensi dari tindak perbuatan. Karena adanya tanggung jawab itulah,
maka seseorang yang berani, juga memerlukan adanya pertimbngan-pertimbangan, hitungan
dan kewaspadaan sebelum bertindak; jadi tidak berlaku sembrono atau membabi
buta. Dipikirkan terlebih dahulu dengani akal sehatnya.
2. Macam atau jenis Tanggung Jawab
a. Tanggung
jawab terhadap diri sendiri
b. Tanggung jawab terhadap manusia atau
masyarakat
c. Tanggung
jawab terhadap lingkungan
d. Tanggung
jawab terhadap Tuhan
3. Pengabdian
Pengabdian
adalah perbuatan baik yang berupa pikiran atau pendapat ataupun tenaga sebagai
perwujudan kesetiaan mungkin kepada pemimpin, cinta, kasih sayang, hormat atau
suatu ikatan dimana semuanya itu dilakukan dengan penuh ikhlas.
Pengabdian ini dapat berupa
pengabdian yang kita tujukan kepada:
a. Pengabdian kepada keluarga
b. Pengabdian
kepada masyarakat
c. Pengabdian
kepada Negara
d. Pengabdian
kepada Tuhan
4.
Pengorbanan
Pengorbanan
berasal dari kata korban yang artinya memeberikan secara ikhlas dalam ujud-ujud
tertentu seperti :harta, benda, waktu, tenaga pikiran bahkan mungkin demi nyawa
cintanya atau ikatanya dengan suatu demi kesetiaan, kebenaran.
Perbedaan antara pengertian
pengabdian dan pengorbanan tidaklah begitu jelas. Karena adanya pengabdian
tentu ada pengorbanan. Antara sesama kawan sulit untuk dikatakan pengabdian
karena kata pengabdian mengandung dapat juga diterapkan kepada sesama kawan.
Pengorbanan merupakan akibat
dan pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran, perasaan, bahkan
dapat juga jiwa. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada
perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan.
5.
Kesadaran
Kesadaran adalah keinsafan akan perbuatannya. Sadar artinya, merasa,
tahu atau ingat (kepada keadaan yang sebenarnya), keadaan ingat akari dirinya, ingat
kembali (dari pingsan), siumana, bangun dari tidur), ingat, tahu dan mengerti, misalnya
rakyat telah sadar akan politik.
Jadi kesadaran adalah hati
yang telah terbuka atau pikiran dan perasaan dimana telah terbuka tentang apa
yang telah dikerjakannya. Namun dalam pengertian kesadaran dalam hal ini
hanyalah dibatasi pada kesadaran moral ini sangat penting bagi kehidupan
manusia. Hal ini tidak berarti bahwa kesadaran yang lain tidak
penting misalnya, kesadaran,
berpolitik, kesadaran betapa pentingnya setiap orang dapat membaca,kesadaran
mahasiswa akan belajar,kesadaran pergi kekantor tidak terlambat,kesadaran
bekerja sebaik-baiknya, dan sebagainya. Kesadaran itu juga penting bagi
manusia, karena tanpa kesadaran orang akan mengalami kepincangan dalam
hidupnya.
BAB VIII
MANUSIA DAN PENDERITAAN
A.
Pengantar
Manusia
selama hidupnya pernah mengalami perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan, tidak
enak, rasa sakit dan siksaan ini disebabkan manusia mempunyai perasaan dan
pikiran. Pada umumnya perasaan-perasaan
itu tidak dikehendaki oleh manusia, toh bila manusia dengan sengaja merasakan
sesuatu yang tidak menyenangkan misalnya rasa sakit itupun hanya sementara.
Tujuan akhirnya adalah menghendaki perasaan yang menyenangkan.
Perasaan-perasaan diatas merupakan rasa derita atau penderitaan.
B.
Penderitan
1.
Pengertian
Penderitaan
Penderitaan
mempunyai kata dasar derita yang berasal dari kata dhra (Bahasa Sansekerta), yang
berarti menahan atau menanggung. Penderitaan adalah beban phisik atau jiwa
manusia yang dapat menekan diri manusia. Pendapat Franklien J.Meine menyatakan
bahwa penderitaan (suffering) adalah yang berhubungan dengan rasa sakit, yang
tak menyenangkan hati, menderita rugi, dan suka menderita. Penderitaan
didalamnya mengandung rasa sakit, siksaan dan nereka.
Penderitaan manusia dalam
kehidupannya dapat disengaja atau tidak disengaja. Bagaimanapun penderitaan itu
tidak menyenanccam, toh ada manusia yang secara sengaja untuk merasakan
penderitaan. Misalnya sengsara dilakukan orang india dengan menyakiti tubuhnya
sendrir sebagaimana ketaatan jiwa untuk memperoleh kebahagiaan setelah mati.
2.
Sumber
Penderitaan
Manusia sebagai mahluk hidup mempunyai banyak
dimensi yang semua dimensi merupakan
satu kesatuan utuh. Ini menurut pandangan monopruralisme, yang memandang
manusia mempunyai banyak aspek sebagai satu kesatuan yang monodualis. Manusia
mempunyai dimensi-dimensi kebedaan(alam), individu, sosial, jiwa, Tuhan dan
sebagainya.
Agar mempermudah untuk memahami hubungan
dimensi manusia dan kebutuhan manusia, disini disederhanakan bebagai dimensi
dan kebutuhan itu hanya dibedakan atas aspek kejasmanian (phisik), kejiwaan (psikis),
dan sosial.
Sehingga kebutuhan
manusia cukup dibedakan antara kebutuhan phisik, kebutuhan psikis, dan
kebutuhan sosial.
1) Kebutuhan
phisik(basic needs) meliputi makana, minum,
bernapas, pakaian, tempat tinggal, seks, kesehatan dan sebagainya.
2) Kebutuhan
psikis(psichologizal needs) meliputi
keindahan, kenikmatan, moral, ilmu pengetahuan, religiosdan sebagainya.
3) Kebutuhan
sosial(social needs) meliputi
pergaulan, kekeluargaan, persahabatan, berkelompok, berkomunikasi dan
sebagainya.
Apabila dikelompokkan
secara sederhana berdasarkan timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia
itu dapat diperinci sebagai berikut :
a.
Penderitaan
yang timbul akibat perbuatan buruk manusia
b.
Penderitaan
karena penyakita
c.
Penderitaan
akibat siksaan atau azab Tuhan
3.
Rasa
sakit
Rasa sakit
merupakan bagian dan penderitaan manusia. Rasa sakit adalah rasa tidak enak
bagi penderitaanya. Rasa sakit dapat ditimbulkan karena adanya gangguan pada
organ tubuh manusia atau karena suatu penyakit.
Rasa sakit dan penyakit dalam
kehidupan sehari-hari dapat dibedakan
tiga macam, yaitu sakit phisik, sakit syaraf (jiwa) dan sakit hati.
Ketiga penyakit bisa merupakan rangkian rasa sakit pada diri manusia.
a.
Sakit
Phisik
b.
Sakit
syaraf dan Jiwa
Baik sakit syaraf maupun sakitjiwa sering
ditunjukan dengan gejala-gejala gangguan dengan simtoma penyimpangan perilaku
manusia,simtoma-simtoma itu antara lain sebagai berikut:
1) Gangguan
pengamatan
Gangguan pengamatan
merupakan kesalahan-kesalahan alam menggolongkan hasil-hasil pengamatan manusia
terhadap dunia sekitarnya.
Gangguan pengamatan
meliputi:
a. Antenia
Antenia adalah gangguan pada syaraf
perabaan dalam menerima stimulus melalui kulit, misalnya tidak mampu merasakan
panas, dingin, kehalusan.
b. Agonosia
Agonosia merupakan gangguan syaraf
indera, sehingga mata tidak dapat berfungsi untuk melihat.
c. Iilusi
Iilusi merupakan
kesesatan persepsi dengan menerima bayangan atau kesan yang menyesatkan, misalnya
fatamorgana di padang pasir dikira sumber air.
d. Hallusinasi
Hallusinassi merupakan
kesalahan pengamatan dengan mengkayalkan bayangan seolah-olah ada stimulus, misalnya orang
merasa dikejar-kejar orang lain,orang yang baru membunuh orang lain merasa
dikejar-kejar almarhumnya.
e. De
ja vu
De ja vu merupakan
pemalsuan ingatan sehingga keliru untuk mengingat sesuatu kesan yang ada dalam jiwa.
f. Jamais
vu
Jamais vu merupakan
ketidak mampuan syaraf dalam mengenal objek, misal karena kurang konsentrasi
atau perhatian terpencar-pencar tidak dapat mengenali objek tertentu.
2) Gangguan
fungsi-fungsi jiwa
Gangguan fungsi-fungsi
jiwa merupakan kesesatan-kesesatan yang terjadi dalam fungsi-fungsi jiwa ini
antara lain:
a) Gangguan
pikiran yang lebih serius menjadi lingkungan, dimana seseorang tidak mampu
berpikir cermat dalam menghadapi permasalahan.
b) Gangguan
ingatan
Gangguan ingatan sering
disebut sakit ingatan yaitu orang mampu mengingat dan mengorganisir kesan-kesan
yang tersimpan didalam jiwa.
c) Gangguan
kesadaran
Gangguan kesadaran
merupakan ketidak mampuan mengendaliakan kesadaran diri, misal orang menyiksa
orang lain atau berupa ekspresi luapan emosi.
d) Histeria
Histeria merupakan
pemberi response yang secara berlebihan tidak sesuai dengan stimulusnya, misalnya
seorang wanita menjerit sekuatnya ketika melihat ular kecil.
e) Gangguan
fantasi
Gangguan fantasi
terjadi dengan mengkayalan suatu obyek diluar kewajaran atau rasional, misalnya
melamun.
3) Sakit hati
Sakit hati bermacam-macam
penyebabnya serta bermacam-macam pula jenisnya dan sifatnya. Orang sakit hati
akan berfikir terus dan akibatnya dapat menyebabkan sakit phisik. Manusia dapat
menderita sakit hati karena setiap orang merasa mempunyai harga diri dan rasa
iri serta dengki. Bila harga dirinya
diremehkan oleh individu lain, menyebabkan sakit hati. Misalnya diejek, tidak
diperdulikan, dicacimaki.
4.Siksaan
Siksaan
merupakan sesuatu yang mengerikan. Karena kita membayangkan tindakan pihak yang
kuat yang semena-mena terhadap golongan lemah yang tak berdaya. Siksaan sering
menggunakan alat penyiksa yang menyayat hati. Siksaan dapat terjadi di dunia
maupun di akherat yang disebabkan kesalahan,ketidakberdayaan atau dosa-dosa
manusia.
5.Neraka
Siksaan
yang lebih mengerikan lagi adalah siksaan dari akhirat yang sering disebut
siksaan kubur. Dalam kitab-kitab suci agama disebutkan dalam firmanNya tentang
adanya kehidupan di alam baka (kelanggengan). Dimana dalam kehidupan ini
manusia ditentukan oleh perbuatan baik atau buruk, pahala atau dosa ketika
hidup di dunia fana. Sehingga manusia masuk dalam kehidupan surga atau neraka.
Kehidupan di surga digambarkan suatu kehidupan yang penuh kenikmatan seperti
disediakan tempat tidur yang serba empuk dihiasi emas dibawahnya mengalir air
susu. Sebaliknya kehidupan neraka digambarkan
sebagai kehidupan yang penuh siksaan dan Tuhan Yang Maha Esa. Manusia tidak
dapat melepaskan siksaan nereka kecuali kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
6.Cara
mengatasi penderitaan
Setiap orang yang mengadapi penderitaan akan
berusaha untuk melepaskan dirinya dari penderitaan. Seorang pencuri yang tertangkap kemudia ditahan
polisi, akan melepaskan dari tahanan bila tidak dijaga.
Dengan demikian cara
menghadapi penderitaan dengan sikap positif dapat dilakukan dengan cara di
bawah ini:
(1) Penyesalan
berbuatan
Seseorang sering
menyesali perbuatan yang mendatangkan penderitaan,sehingga dia berjanji pada diri atau orang lain tidak akan
mengulangi perbuatan yang mendatangkan penderitaan. Seorang ayah suka main judi yang berakibat kalang
kabutnya rumah tangga,kemudian dia tidak mengulangi main judi kembali.
(2) Bertaubat
dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa
Manusia yang banyak melakukan dosa kemudian menyadari akan
siksaaNya,kemudian bertaubat dengan sembahyang
malam hari atau meningkatkan ketaqwaannya kepada Tuhan
(3) Inisiatif
Banyak manusia yang menghadapi penderitaan, kemudian
berinisiatif untuk menemukan cara melepaskan penderitaan. Keluarga petani
miskin yang selalu menderita tidak tercukupinya kebutuhan keluarganya timbul
inisiatif untuk bertransmigrasi ke luar
jawa.
(4) Kompensasi
Kompensasi berarti
menggantikan atau menutupi kelemahan yang menyebabkan penderitaan dengan
memilih dan menggembangkan kegiatan sesuai dengan kemampuan dan kekurangannya.
Banyak penderitaan cacat tubuh,misalnya lumpuh,buta,tuli dan sebagainya,mereka
mengembangkan ketrampilan tertentu sebagai profesinya. Beberapa penderitaan
tunanetra mempunyai ketrampilan pijat sebagai profesi keija untuk dapat hidup
mandiri.
Banyak faktor yang mempengaruhi untuk
mengambil sikap negatif atau sikap positif dalam melepaskan
penderitaanya,anatara lain faktor agama dan keimanan,ketabahan diri,ilmu
pengetahuan,usia dan sebagainya.
BAB
IX
MANUSIA DAN KEGELIHAN
A.
Pengertian
Kegelisahan
berasal dari kata ’’gelisah’’, artinya tidak tenteram hati, tidak tenang, tidak
sabar lagi, merasa cemas dan khawatir.
Kegelisahan hanya
dapat diketahatui dari gejala tingkah laku atau gerak-gerik seseorang dalam
situasi tertentu. Gejala tingkah laku atau gerak-gerik itu umumnya lain
biasanya, misalnya berjalan mundar mandir dalam ruangan tertentu sambil
menundukan kepala; memadang jauh ke
depan sambil mengepal-ngepalkan tangannya duduk termenung sambil memegang
kepalanya; duduk dengan wajah murung atau sayu, malas bicara; duduk, berdiri
sambil menggelengkan kepala dan lain-lain.
Kegelisahan itu
timbul karena perbuatan sendiri atau karena perbuatan atau keadaan dari luar
diri manusia, yang memberi pengaruh
psikologis yang merugikan terhadap harga
kekayaan. Jiwa badanya martabat dan harga dirinya. Pengaruh tersebut tidak hanya pada diri seseorang tertentu itu,malainkan
dapat terjadi juga pada orang lain, pada keluarga, pada masyarakat luas, karena
perbuatan atau keadaan tertentu, Bapak gelisah, Ibu gelisah, keluarga gelisah, tetangga
ikut gelisah, bahwa masyarakat sekitar menjadi gelisah.
3.Kegelisahan
Keterasingan berasal dari
kata’’terasing’’ artinya tersisih,terpisah,terpencil,dari pergaulan masyarakat
baik-baik. Keterasingan artinya keadaan yang membuat tersisih. Terpencil dari
pergualan masyarakat baik-baik. Yang menyebabkan orang berada dalam kerasingan
itu ialah perilakunya yang tidak dapat diterima atau tidak dapat dibenarkan
oleh masyarakat, atau kekurangan yang ada pada diri seseorang sehingga ia tidak
dapat atau sulit menyesuaikan diri dalam masyarakat,
4.Kesepian
Kesepian berasal dari
kata’’sepi’’ artinya sunyi, tidak ada orang, tidak ada apa-apa, kesepian
artinya kesunyian, merasa sunyi, merasa tidak berteman,merasa tidak didampingi
orang, merasa tidak punya apa-apa. Kesepian membuat manusia gelisah, karena
menyentuh nilai-nilai kemanusiaan, harkat dab martabat manusia. Kesepian yang
dimaksud disini adalah kesepian dalam arti psikologis yang dalam,yang sangat
berpengaruh pada jalan hidup manusia.
BAB X
MANUSIA DAN HARAPAN
A.
Pengerian
Setiap manusia yang normal mempunyai cita-cita
atau harapan dalam hidupnya. Ini berarti bahwa ia ingin hidup dengan segala
kesadaran ini membina hidupnya agar selalu meningkat martabatnya. Dalam istilah
teknis psikologis hal itu disebut’’ merealisasikan diri (self relazation), artinya
manusia berusaha mengembangkan dirinya, sehingga hidupnya selalu meningkat dan
lebih baik serta dapat membatu memperkaya lingkungannya.
Harapan tidak mungkin
mengandung arti yang negatif seperti
misalnya setiap semester harus ada mata kuliah yang tidak lulus sehingga tidak
cepat-cepat pulang ke kampung halaman. Manusia dalam hidupnya selalu mempunyai
pedoman yang dapat disebut filsafat hidup apapun hidupnya.
B.
Pokok
Bahasaan
1.
Kebutuhan
dan Harapan
Selama masih hidup, semua orang selalu ada
perasaan berharap. Tercapainya keinginan seseorang dapat ditempuh melalui
beberapa macam cara, baik yang negatif maupun positif dalam arti tidak
melanggar norma-norma agama, hukum maupun norma-norma msyarakat. Manusia yang
tanpa harapan berarti manusia hidup dalam keadaan mati, sedangkan orang yang
akan meninggal pun kadang-kadang mempunyai harapan dan biasanya berupa
pesan-pesan kepada keluarga atau orang-orang yang paling dekat dihatinya.
Apabila sesuatu hal yang dikehendaki oleh seseorang individu itu diperoleh
dengan sangat mudah atau sebaliknya dapat menimbulkan suatu kehendak yang
berupa harapan. Harapan yang sangat mendalam dapat menumbuhkan apa yang disebut
keinginan. Harapan berasal dari kata harap, yang berarti keinginan sebelum
sesuatu itu terjadi. Yang mempunyai harapan itu hati, jadi putus harapan
berarti putus asa.
Mengenai
kebutuhan individu, dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Kebutuhan
organik individu meliputi:
1) Makan
dan minum
2) Istirahat
dan tidur
3) Sex
4) Keseimbangan
suhu
5) Bernafas
6) Buang
hajat
7) Dan
lain-lain
b. Kebutuhan
psikologi individu, meliputi:
1) Bersantai
2) Kemesraan
dan bercinta
3) Kepuasan
altruistik
4) Kepuasan
ego
5) Kehormatan
6) Kepuasan
dan kebanggaan mencapai tujuan
7) Dan
lain-lain
2.
Percaya
diri
Kemampuan
yang mendukung usaha/perjuangan itu membangkitkan sikap “percaya diri”.
Kemampuan itu meliputi kemampuan fikiran dan kemampuan fisik. Kemampuan fikir
berhubungan dengan kemapuan yang diperoleh melalui pendidikan, sehingga dapat
meramalkan dan merencanakan usaha yang akan dilakukan. Kemampuan fisik
berkenaan dengan tenaga, baik tenaga sendiri maupun tenaga bantuan orang lain,
dengan menggunakan alat bantu maupun tidak menggunakan alat bantuan
(teknologi).
Kemampuan
dan sikap percaya diri membuat manusia kreatif. Imajinatif penuh inisiatif.
Sikap percaya diri ini menebalkan iman manusia kepada Tuhan, apabila kalau
harapan itu terkabul atau berhasil. Tetapi kadang-kadang lain. Setelah
harapannya tercapai, manusia lupa diri, takabur dan bahkan ingkar dengan
kekuasaan Tuhan, dan sesumbar bahwa keberhasilan itu karena usaha sendiri. Di
sini ternyata manusia telah memutuskan tali ikatan antara percaya diri dan
kemampuan dengan Tuhan yang mengendalikan segala sesuatunya dari atas.
3.
Gairah
Mengatasi Kesulitan
Harapan
selalu dilatar belakangi oleh manusia kehidupan, fokusnya adalah kebutuhan
hidup. Harapan pada dasarnya menginginkan kemakmuran dan kebaikan, yang dapat
terwujud apabila disertai dengan usaha, sebab tidak semua harapan dapat dicapai
dengan mulus, tetapi banyak rintangan dan hambatan yang menghadang
dihadapannya.
Oleh
karena itu untuk mencapai keberhasilan apa yang diharapkan kesulitan-kesulitan
yang menghadangnya harus diatasi, dengan cara meningkatkan kemampuan, yang
berarti memupuk sikap percaya diri dan membangkitkan gairah atau semangat
kerja.
Cara
meningkatkan kemampuan ini ialah:
1) Banyak
memperoleh informasi tentang keberhasilan orang-orang tertentu. Hal ini
mendorong untuk berusaha keras dan membangkitkan gairah kerja yang memberi
harapa.
2) Banyak
berkomunikasi, bekerjasama dan ikut serta dalam usahanya untuk memperoleh
pengalaman dan keterampilan yang dapat dicontoh, sehingga memberi harapan.
3) Mendengarkan
dan menghayati nasehat-nasehat yang kontruktif, yang mengandung nilai-nilai moral yang memperoleh keyakinan kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa, sehingga dapat memberi arah pada kehidupan yang lebih baik dan
memberi harapan.
Harapan yang dirintis
dengan kerja keras tanpa mengenal lelah, akan memberi hasil yang membahagiakan.
DAFTAR PUSTAKA
Sudibyo, Lies MH, dkk. 2013. Ilmu Social Budaya Dasar. Yogyakarta : C.V ANDI OFFSET.