Selasa, 15 November 2016

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR



BAB 1
PENDAHULUAN
                                        
A.     ILmu Budaya Dasar Sebagai Komponen MBB

          Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD) adalah salah satu mata kuliah kelompok Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB) di Perguruan Tinggi.Visi kelompok MBB di Perguruan Tinggi merupakan sumber nilai dan pedoman bagi penyelenggara program studi guna mengantarkan mahasiswa memantapkan kepribadian,kepekaan sosial,kemampuan hidup bermasyarakat, pengetahuan tentang pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup.dan mempunyai wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Misi kelompok MBB di Perguruan Tinggi membantu menumbuhkan kembangakan : daya kristis, daya kreatif, apresiasi, dan kepekaan mahasiswa terhadap nilai-nilai sosial yang :
1.         Besifat demokratis, berkeadaban, dan menjujung tinggi nilai kemanusiaan, bermatabat, serta peduli terhadap  pelestarian daya alam dan  lingkungan hidup.
2.         Memiliki kemampuan untuk menguasai dasar-dasar ilmu pengatahuan, teknologi dan seni, serta
3.         Ikut berperan mencari solusi pemecahan masalah sosial budaya dan lingkungan  hidup cara arif.
             Mata Kuliah ISBD mengetengahkan pengetahuan dasar tentang konsep-konsep
 manusia, konsep-konsep kebudayaan, konsep-konsep sosiologi, konsep-konsep nilai
 moral, dan hukum dan konsep-konsep sains, teknologi, seni dan lingkungan.
            Didalam Kurikulum, ISBD masuk dalam kelompok bahan kajian yang
diperlukan untuk dapat memahami kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai
dengan pilihan keahlian dalam berkarya. Lulusan PT harus memiliki 3 kemampuan:
a.         Kemampuan Akademik : kemampuan berkomunikasi secara ilmiah,
baik lisan maupun tulisan, menguasai peralatan analisis, berfikir logis, kritis,
sistematik dan analitik, mampu merumuskan dan memecahkan masalah.
b.        Kemampuan Profesional: kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang
Bersangkutan.
c.         Kemampuan Personal adalah kemampuan kepribadian, dengan pengetahuan
mampu menunjukkan sikap, tingkah laku, dan tindakan yang mencerminkan
kepribadian Indonesia,memahami nilai-nilai keagamaan,mempunyai kepekaan
terhadap berbagai masalah. ISBD salah satu mata kuliah sebagai program
pendidikan umum  untuk mengembangkan memampuan personal tersebut.
ISBD sebagai integersi dari ISD dan IBD memberikan dasar-dasar pengetahuan
sosial dan konsep-konsep budaya kepada mahasiswa,sehingga mampu
mengkaji masalah sosial,kemanusiaan,dan budaya,sehingga diharapakan
 mahasiswa peka,tanggap,kristis serta berempati atas solusi pemecahan masalah
 sosial dan budaya secara arif.

B.      Masalah –Masalah Sosial Budaya Masyarakat
    Masalah –masalah sosial telah menghantui manusia sejak  adanya
peradaban manusia karena dianggap sebagai pengganggu kesejahteraan hidup
mereka sehingga merangsang warga masyarakat
 untuk mengidentifikasi,menganalisis,memahami,dan memikirkan
cara-cara untuk mengatasinya. Dimana masa lampau,pada waktu belum ada
ahli-ahli ilmu sosial warga masyarakat umumnya peka terhadap masalah-masalah
sosial adalah para ahli filasafat,para ahli dan pemuka agama serta para ahli
pollitik dan kenegaraan.
 Masalah-masalah sosial dapat didefenisikan sebagai suatu kondisi yang 
mempunyai pengaruh terhadap kehidupan sebagian besar masyarakat sebagai suatu
 yang tidak diinginkan atau tidak disukai dan karenanya dirasakan perlunya untuk
 diatasi atau diperbaiki. Sebagai contoh,pedagang kaki lima selalu dianggap
sebagai masalah sosial di kota-kota, karena menjadi sumber dari berbagai kekacauan
 lalu lintas yang akan menjadi sumber utama kejahatan yang mudah terjadi.

C.      Ruang Lingkup Ilmu Sosial Budaya Dasar
                   
                    Untuk dapat memahami posisi Ilmu Sosial Budaya Dasar dalam ilmu
pengetahuan, ada baiknya perlu dipahami terlebih dahulu pengelompokkan ilmu
pengetahuan menurut prof.Dr.Harsja Bachtiar
(dalam Abdulkadir,Muhammad,2005:1) yang mengeleompokkan Ilmu dan
pengetahuan menjadi 3(tiga),yaitu:
1.      Ilmu-ilmu Alamiah (natural sciences)
2.      Ilmu-ilmu sosial(Social Sciences)
3.      Pengatahuan Budaya (the Humanities)
Ilmu-ilmu Alamiah bertujuan untuk mengetahui keteraturan-keteraturan
yang terdapat dalam alam semesta. Untuk mengkaji di generalisasikan,
kemudian dibuat prediksi. Hasil penelitianya adalah 100% benar atau 100% salah.
Yang termasuk kelompok ini adalah astronomi,fisik,kimia,biologi,mekanika,kedokteran
 dan lain –lain.
Ilmu-ilmu Sosial bertujuan untuk mengetahui keteraturan-keteraturan yang
terdapat dalam hubungan anatara manusia. untuk mengkaji hal itu  digunakan metode
ilmiah dengan meminjam dari ilmu-ilmu alamiah,tetapi hasilnya tidak mungkin 100%
 salah atau 100% benar. termasuk dalam kelompok
ini.antara lain : ekonomi,sosiologi,politik,demografi,antropologi sosial.
Manusia sebagai mahluk sosial berbudaya (homo humanus) artinya, manusia
itu mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang paling sempurna, karena sejak lahir
sudah dibekali dengan unsur akal (ratio), rasa(sense)yang membedakan
dengan mahluk lainnya. sebagai mahluk berbudaya,manusia hanya mampu
mengembangkan diri dan budayanya apabila berhubungan dengan manusia lain.


                    






BAB II
KELOMOK SOSIAL BUDAYA

A.    Pengertian Sosial Budaya
Istilah sosial budaya merupakan bentuk gabungan dari istilah sosial dan budaya.
sosial dalam arti masyarakat, budaya atau kebudayaan dalam arti sebagai semua hasil karya,
rasa dan cipta masyarakat. Sosial dalam arti luas mencakup segala aspek kehidupan.
oleh karea itu atas landasan pemikiran tersebut, maka pengertian sistem sosial budaya
Indonesia dapat dirumuskan sebagai totalitas tata nilai, tata sosial,dan tata laku manusia
Indonesia yang merupakan manisfestasi dari karya, rasa dan cipta di dalam
 kehidupan  bermasyarakat,berbangsa dan bernegara berdasarkan pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945.Dalam hubungan ini, pengertian sosial budaya mencakup
dari dua segi utama kehidupan masyarakat.
1.      Segi  Kemasyarakatan
Manusia demi kelangsungan hidupnya harus mengadakan  kerjasama
dengan sesama manusia. pengertian kemasyarakatan pada hakikatnya adalah
merupakan pergaulan hidup manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang
mengandung nilai-nilai kebersamaan, senasib sepenanggungan dan solidaritas yang
merupakan unsur pemersatu kelompok sosial.
2.      Segi kebudayaan
Kebudayaan merupakan totalitas cara hidup yang manifestasinya tampak dalam tingkah
laku yang terlembagakan. Hakikat budaya adalah sistem nilai yang merupakan
hasil hubungan manusia dengan cipta, rasa dan karsa yang menumbuhkan 
gagasan-gagasan utama serta merupakan kekuatan pendukung dan penggerak
kehidupan. Fokus budaya dapat berupa nilai dan norma religius, ekonomi atau
nilai sosial budaya lainnya, seperti ilmu pengetahuan dan teknologi.
B.      Bentuk Sosial Budaya
Bentuk sosial budaya, artinya setiap kelompok sosial budaya mempunyai batas-batas yang telah ditentukan berdasarkan tipe kelompok, yang membedakannya dengan kelompok yang lain. Tipe kelompok dibedakan lagi antara tradisional  alamiah dan yang modern. Tipe kelompok tradisional alamiah didasarkan pada kesatuan geografis, ikatan perkawinan, dan hubungan darah, sedangakan tipe kelompok modern didasarkan pada kepentingan yang sama dan keahlian profesional. Dengan demikian ada 4 (empat) macam tipe kelompok sosial budaya,yaitu :
1.    Tipe kelompok sosial budaya berdasarkan kesatuan geografis,seperti desa, kota, daerah aliran sungai,daerah pantai,dan daerah pegunungan.
2.    Tipe kelompok sosial budaya berdasarkan ikatan perkawinan dan hubungan darah, seperti keluarga dan keluarga besar.
3.    Tipe kelompok sosial budaya berdasarkan kepentingan yang sama, seperti Koperasi, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan Yayasan.
4.    Tipe kelompok sosial budaya berdasarkan kesakliah profesional,
seperti kelompok profesi dan kelompok pengusaha.
C.    Tujuan Sosial Budaya
Berdasarkan hakikat keilmuan, maka tujuan ilmu sosial budaya sadar sebagai bagian dari berkehidupan bermasyarakat adalah :
a.    Mengembangkan kesadaran mahasiswa menguasai pengetahuan tentang keanekaragaman, kesetaraan, dan kemartabatan manusia sebagai individu dan mahluk sosial dalam kehidupan bermasyarakatan.
b.    Menumbuhkan sikap kristis, peka, dan arif dalam memahami keragaman, kesederajatan, dan kemartabatan manusia dengan landasan nilai estetika, etika,dan moral dalam kehidupan bermasyarakat.
c.    Memberikan landasan pengetahuan dan wawasan yang luas serta keyakinan kepala mahasiswa sebagai bekal bagi hidup bermasyarakatan,selaku individu dan mahluk sosial yang beradab dalam memperaktekkan pengetahuan akademik,dan keahliannya serta mampu memberikan problem solving sosial budaya secara bijaksana.
D.    Perkembangan Sosial Budaya Indonesia
Kebudayaan itu telah mengalami proses perkembangan secara bertahap dan berkeseimbangan yang kita konsepkan sebagai evolusi kebudayaan. Evolusi kebudayaan ini berlangsung sesuai dengan perkembangan budidaya atau akal pikiran dalam menghadapi tantangan hidup dari waktu ke waktu. Masa dalam kehidupan manusia dapat kita bagi dua, yaitu masa prasejarah (masa sebelum manusia mengenal tulisan sampai manusia mengenal tulisan) dan masa sejarah (masa manusia telah mengenal tulis. Ada dua produk revolusioner hasil dari akal manusia dalam zaman prasejarah, yaitu:
1.      penemuan roda untuk transportasi
Pada mulanya,roda hanya digunakan untuk mengangkat barat diatas  batang pohon.
2.      Bahasa
Bahasa adalah suara yang diterima sebagai cara untuk menyampaikan masa prasejarah ini,ada dua pendekatan untuk membagi zaman prasejarah,yaitu :
1.      Pendekatan berdasarkan hasil teknologi, terdiri dari zaman batu tua (palaeolitikum), zaman batu tengah/madya(mesolitikum), dan zaman batu baru.
2.      Pendekatan berdasarkan model sosial ekonomi atau mata pencaharian hidup yang terdiri atas:
a.       Masa berburu dan mengumpulkan makanan, meliputi masa berburu sederhana (tradisi paleolit) dan masa berburu tingkat lanjut (tradisi Epipaleolitik).
b.      Masa bercocok tanam,meliputi tradisi Neolitik dan megalitik.
c.       Masa kemahiran teknik atau perundingan, meliputi tradisi semituang perunggu dan tradisi smituang besi. Pendapat lain membagi periode praperadaban manusia ke dalam empat bagian, yaitu prapalaeolitik, paraeolitik, neolitik dan era perunggu dimana manusia tidak lagi sekedar homo yang hanya menginginkan makanan. Manusia kemudian berkembang dari homo menjadi human karena kebudayaan dan peradaban yang diciptakan. Sedangkan untuk sejarah kebudayaan di Indonesia, R.Soekmono (1973), yang membagi empat masa yaitu:
1.    Zaman prasejarah,yaitu sejak permulaan adanya manusia dan kebudayaan sampai kira-kira abad ke-5 masehi.
2.    Zaman purba,yaitu sejak datangnya pengaruh india pada abad pertama masehi sampai dengan runtuhnya majapahit sekitar tahun 1500 masehi.
3.    Zaman madya,yaitu sejak datangnya pengaruh Islam menjelang akhir kerajaan majapahit sampai dengan akhir abad ke-19.
4.    Zaman baru/Modern,yaitu sejak masuknya anasir Barat (Eropa)dan teknik   Moder kira-kira tahun 1900 sampai sekarang.


                  

BAB III
PEMUDA DAN SOSIALISASI

A.    Pengertian Pemuda
                Secara umum terdapat pergeseran mengenai konsep pemuda. Pada dua dekade yang lalu, terminologi pemuda selalu memiliki makna ideologis. Pemuda, bukanlah sebuah gugus gagasan yang hanya dibatasi oleh persoalan umur semata. Pemuda, sebagai sebuah konsep, memiliki dimensi politis. Bennedict Anclerson, misalnya,menyebut bahwa definisi ”pemuda” selalu dikaitkan dengan dimensi politik. Sejak revolusi kemerdekaan, pemuda adalah kelompok umur tertentu (15-40 tahun) yang menghabiskan sebagian besar atau kalau tidak malah semua waktu longgar mereka dalam kegiatan yang bersifatnya politis.
                Bila generasi muda sebelumnya diklasifikasikan sebagai lapisan masyarakat yang digambarkan sebagai sebuah generasi yang diisi oleh sosok-sosok yang penuh idealisme, berani berkorban, berani menderita, dan menjadi pelopor setiap perubahan sosial ataupun politik untuk kepentingan bangsanya, maka generasi muda sekarang memiliki sosok yang sangat lain. hasil jajak pendapat kompas terhadap pemuda berusia 16-30 tahun menujukkan hanya seperempat bagian responden yang menilai generasi muda sekarang masih idealis, yakni ingin membantu orang yang akan memerlukan dan yang bercita-cita menjadi pemimpinan di komunitasnya.

B.     Pendidikan Karakter
                 Pendidikan karakter di Indonesia sesungguhnya bukan sesuatu yang baru dalam tradisi pendidikan di Indonesia. Beberapa pendidik di Indonesia modern yang mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa sesuai dengan konteks dan situasi yang mereka alami antara lain: R.A.kartini, Ki Hadjar Dewantara, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Moh.Natsir, dll.
     Pendidikan  bisa dikatakan berkarakter apabila melibatkan berbagai macam komposisi nilai(nilai agama,nilai moral, nilai-nilai umum, dan nilai-nilai kewarganegaraan). secara detail pendidikan karakter memiliki nilai-nilai :
            Nilai keutamaan. Manusia memiliki keutamaan kalau ia menghayati dan melaksanakan tindakan-tindakan yang utama,yang membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain. sejarah mencatat, sejak zaman kolonial, bangsa indonesia menempatkan nilai keutamaan, seperti kesatuan dalam kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa  sebagai nilai utama yang diperjuangkan. Para pahlawan  bangsa pendiri bangsa ini lebih mengutamakan nilai-nilai yang berguna  bagi kepentingan bangsa  daripada kepentingan kelompoknya sendiri.  Oleh  karena itu  nilai-nilai seperti  kepahlawanan,jiwa pengorbanan, memetingkan kesatuan bangsa daripada kepentingan kelompok merupakan nilai keutamaan yang memiliki akar tradisi sejarah yang kuat dalam perjalanan bangsa kita.
                      Nilai keindahan.  Pada  masa lalu,  nilai keindahan ditafsirkan terutama pada keindahan fisik, berupa hasil karya seni ,patung, bangunan, sastra ,dll. Nilai keindahan dalam tataran yang lebih tinggi menyentuh dimensi interioritas manusia itu sendiri yang menjadi penentu kualitas dirinya sebagai manusia. Bangsa Indonesia sejak dahulu memiliki rasa religiositas,rasa seni yang tinggi. Oleh karenanya pengembangan nilai-nilai keindahan  bukan hanya merupakan sebuah proses berproduksi, dalam arti menghasilkan sebuah obyek seni saja, namun juga  pengembangan dimensi interioritas manusia sebagai insan yang memiliki kesadaran religius yang kuat.nilai-nilai estetis dan religiositas ini semestinya menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter di negeri kita.

           
                        Nilai adil. Jika ingin berbuat adil,manusia harus bekerja.penghargaan atas nilai kerja inilah yang menentukan kualitas diri seorang individu. Menjadi manusia utama adalah menjadi manusia yang bekerja. Untuk itu butuh kesabaran, ketekunan, dan jerih payah. Jika  lembaga pendidikan kita tidak menanamkan nilai kerja ini individu yang terlibat di dalamnya tidak akan dapat mengembangkan karakter dengan baik. Bangsa kita adalah sebuah bangsa yang bekerja keras. Dinamika masyarakat kita yang sebagian besar adalah petani membuktikan adanya etos kerja itu.

                          Nilai cinta tanah air(patriotisme). Pendidikan karakter yang menanamkan nilai-nilai patriotisme secara mendalam tetaplah relevan, mengingat ikatan batin seseorang senantiasa terpaku pada tanah tumpah kelahirannya, dan ibu pertiwi yang membesarkannya. Konferensi Asia Afrika, Grakan Nonblok yang dipelopori soekarno, gerakan kembali nilai-nilai kebudayaan sendiri seperti yang dialakukan oleh  Ki  Hajar Dewantara jelas merupakan sebuah semangat patriotisme mendalam yang merupakan ekspresi dari cinta tanah air sendiri.


                          Nilai demokrasi. Nilai demokrasi ini mewarisi pendidikan karakter ala Atanean. Dikota  Atena di masa lalu sudah terbiasa pemandangan para serdadu berkeliaran dengan menenteng senjata. Kebiasaan  ini pelan-pelan hilang dan tidak terlihat lagi. Tatanan  sosial tidak lagi didominasi oleh kehadiran militer, melainkan peran serta masyarakat dalam kehidupan diatur melalui sebuah tata sosial politik yang lebih mengutamakan dialog dan membangun kebersamaan. Kebersamaan berpikir dan menyampaikan pendapat merupakan harga mati bagi masyarakat yang demokratis. kehidupan sosial menjadi lebih baik dan beradab ketika terdapat kebebasan untuk berpikir dan menyampikan pendapat.


                          Nilai kesatuan.Dalam konteks berbangsa dan bernegara di Indonesia, nilai kesatuan ini menjadi dasar pendirian ini. Apa yang tertulis dalam sila ke-3 pancasila,yaitu persatuan Indonesia,tidak akan dapat dipertahankan jika setiap individu yang menadi warga negara Indonesia tidak dapat menghormati perbedaan dan pluralitas yang ada dalam masyarakat kita.Kita mengenal tokoh besar Moh Hatta(dan juga Gus Dur)yang menyadari bahwa pluraritas di negeri ini tidak memungkinkan diterapkannya pendekatan dari agama tertentu untuk dicatumkan menjadi dasar negara.


                           Nilai moral. Nilai moral ini oleh Socrates diacu sebagai sebuah panggilan untuk merawat jiwa. Jiwa inilah yang menentukan apakah seseorang itu sebagai individu merupakan pribadi yang baik atau tidak. Oleh karena itu nilai-nilai moral sangatlah vital bagi sebuah pendidikan karakter. Nilai-nila moral yang berguna dalam masyarakat kita tentunya akan semakin efektif  jika nilai ideologi bangsa yaitu  nilai moral dalam pancasila menjadi jiwa dalam setiap pendidikan karakter.Tanpa penghayatan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila, bangsa kita akan berada di ambang kehancuran,dan masyarakat kita yang bhinika tidak akan merasa sebagai kesatuan.


                            Nilai-nilai kemanusiaan. Menghayati nilai-nilai kemanusiaan mengandaikan sikap keterbukaan terhadap kebudayaan lain, termasuk disini kultur agama dan keyakinan yang berbeda. Nilai-nilai kemanusiaan ini menjadi sangat relevan diterapkan dalam pendidikan karakter karena masyarakat kita telah mendadi masyarakat global. Oleh karena itu semangat kewarganegaraan yang ingin ditanamkan dalam pendidikan karakter pun tidak mencukupi jika hanya berdasarkan batas-batas lokal negara,yang merupakan patriotisme sempit, melainkan mesti membantu sikap individu untuk dapat hidup secara kompeten sesuai dengan tuntutan masyarakat globl, sebuah patriotisme bagi kemanusiaan yang mengatasi batas-batas negara.


                            
C.    Menuju Pendidikan Berkarakter
                      
                            Pendidikan karakter di lembaga pendidikan(formal)lebih banyak berurusan dengan penanaman nilai. Pendidikan karakter agar dapat disebut sebagai integral dan utuh mesti juga menentukan metode  yang akan dipakainya,sehingga tujuan pendidikan karakter itu akan semakin terarah dan efektif.
 Metode yang bisa digunakan untuk membantu mencapai idealisme dan tujuan pendidikan karakter di lembaga pendidikan.

                               Mengajarkan. Untuk dapat melakukan yang baik,yang adil,yang bernilai, kita pertama-tama perlu mengetahui dengan jernih apa itu kebaikan,keadilan,dan nilai. Pendidikan karakter mengandaikan pengetahuan teoritis tentang konsep-konsep nilai tertentu. Lebih  dari itu sebuah tindakan dikatakan sebagai tindakan  yang bernilai jika seseorang itu melakukanya dengan bebas, sabar dan dengan pengetahuan yang cukup tentang apa yang telah dilakukannya. Ini mengandaikan adanya sikap reflektif atas tindakan sadar manusia. Untuk itulah salah satu unsur penting dalam pendidikan karakter adalah mengajarakan nilai-nilai itu sehingga generasi muda memiliki gagasan yang konseptual nilai-nilai pemandu perilaku yang bisa dikembangkan dalam mengembangkan karakter pribadinya.
                             Keteladanan. Keteladanan memang menjadi salah satu hal yang klasik bagi berhasilnya sebuah tujuan pendidikan karakter. Guru yang ada dalam bahasa jawa berarti digugu lan  ditiru , sesungguhnya menjadi jiwa bagi pendidikan karakter itu sendiri. Tumpuan pendidikan karakter ini ada di pundak guru. Konsistensi dalam mengajarkan pendidikan karakter tidak sekedar melalui pembelajaran di dalam kelas,melainkan nilai ittu tampil dalam diri samg guru, dalam keidupannya yang nyata di luar kelas.karakter guru menentukan (meskipun tidak selalu) warna kepribadian anak didik.


                              Menentukan prioritas. Lembaga pendidikan umumnya memiliki prioritas dan tuntutan dasar atas karakter yang diterapkan di lingkungan mereka. Jika suatu lembaga pendidikan menentukan suatu prioritas dalam pendidikan mereka adalah standar keilmuan,maka berhasil tidakya kriteria itu mesti dapat dibuktikan melalui transparansi laporan perkembangan kemajuan kemampuan akademik anak didik di hadapan para pemangku  kepentingan (orang tua dan masyarakat). Demikian pula jika suatu lembaga pendidikan ingin menentukan sekumpulan perilaku standar, perilaku-perilaku standar yang menjadi prioritas khas lembaga pendidikan tersebut mestinya dapat diketahui dan dipahami oleh anak didik, orang tua, dan masyarakat. Tanpa adanya prioritas yang jelas proses evaluasi atas berhasil tidaknya pendidikan karakter akan menjadi tidak jelas. Oleh karena itu prioritas akan nilai pendidikan karakter ini mesti dirumuskan dengan jelas dan tegas, diketahui oleh setiap pihak yang terlibat dalam proses pendidikan tersebut. Sebagai lembaga publik sekolah memiliki tanggung jawab moral untuk secara transparan memberikan laporan pertanggungjawaban kinerja pendidikan mereka kepada pemangku kepentingan, yaitu masyarakat luas.


                               Praktis prioritas. Untuk lain bagi pendidikan karakter adalah bukti dilaksanakannya prioritas nilai pendidikan karakter tersebut. Berkaitan dengan tuntutan lembaga pendidikan atas prioritas nilai yang menjadi visi kinerja pendidikannya, lembaga pendidikan mesti mampu membuat verifikasi sejauh mana visi sekolah tersebut telah dapat direalisasikan dalam lingkup pendidikan melalui berbagai macam unsur yang ada di dalam lembaga pendidikan itu sendiri. Adanya verifikasi di lapangan tentang karakter yang dituntutkan itu, misalnya bagaimana sikap terhadap pelanggaran atas kebijakan sekolah. Bagaimana sanksi itu diterapkan secara transparan sehingga menjadi praktis kelembagaan. Realisasi visi dalam kebijakan sekolah merupakan karakter itu di hadapan publik.


                               Refleksi. Refleksi merupakan kemampuan sadar khas manusiawi. Dengan kemampuan sadar ini, manusia mampu mengatasi diri dan meningkatkan kualitas hidupnya dengan lebih baik. Jadi setelah tindakan dan praktis pendidikan karakter itu terjadi, perlulah diadakan semacam pendalaman,fefleksi. Untuk melihat sejauh mana lembaga pendidikan telah berhasil atau gagal dalam melaksanakan pendidikan karakter. Sebab dikatakan Socrates,’’ hidup tidak direfleksikan merupakan hidup yang tidak layak dihayati. ‘’Tanpa ada usaha untuk melihat kembali sejauh mana proses pendidikan karakter ini direfleksi, dievaluasi, tidak akan pernah terdapat kemajuan.


                                                     BAB IV
                               KEBUDAYAAN,PERADABAN
                               DAN SISTEM NILAI BUDAYA

A.    Kebudayaan

                   Kebudayaan berasal dari kata’’budaya’’, yang berasal dari kata Sankerta ‘’budhayah’’, sebagai bentuk  jamak dari buddhi, yang berarti budi atau akal. Kebudayaan adalah hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal. Banyak definisi tentang Kebudayaan.(coba ciri definisi-definisi tersebut). Koentjaraningrat memberikan karya itu’’. Atau dengan kata lain bahwa kebudayaan itu adalah keseluruhan dari apa yang pernah dihasilkan oleh manusia karena pemikiran dan karyanya. Jadi kebudayaan merupakan produk budaya.

a.       Wujud Kebudayaan
           Ralp Linton, membaginya menjadi wujud phisik dan non phisik. sedangkan Koentjaranigrat  membagianya ke dalam tiga wujud, yaitu wujud ideal: yaitu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan dan sebagainya yang berfungsi mengatur, mengendalikan dan memberi arah kepada kelakuan manusia, serta perbuatan manusia dalam masyarakat,maka sering disebut ’’adat tata cara’’.

b.      Wujud Sistem Sosial
             Yaitu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Sistem sosial terdiri dari rangkaian aktivitas manusia dalam masyarakat yang selalu mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan misalnya gotong-royong,kerjasama.

c.       Wujud Kebudayaan Fisik
              Yaitu benda-benda hasil karya manusia, misalnya pabrik,  komputer, candi Borobudur dan lain-lain.



B.     Perwujudan Kebudayaan
                  
                   Dimana-mana manusia itu pada dasarnya adalah sama, karena manusia dibekali oleh penciptanya dengan akal, perasaan, dan kehendak di dalam jiwanya. Yang membedakan adalah perwujudan budaya menurut keadaan, waktu, dan tempat, atau perwujudan budaya dengan menekankan pada akal, perasaan, dan kehendak sebagai kesatuan, atau hanya menekankan pada akal saja(ratio), dengan mengabaikan perasaan.perbedaan itu nantinya akan menyebabkan munculnya pengertian peradaban (civilization) dan kebudayaan (culture).
              
                     Menurut  Sultan Takdir Alisyahbana, apabia perwujudan budaya itu penekanannya pada akal (mind), maka akan menimbulkan tingkat peradaban yang berbeda. Mind  selalu dihubungkan dengan civilization, bukan culture, maka ada yang disebut peradaban tinggi dan peradaban rendah, karena alat ukurnya adalah akal dan pikir manusia. Manusia yang berfikir tinggi dikatakan peradabannya tinggi, dan sebaliknya. Tingkat berfikir tinggi lebih dahulu timbul kalangan orang barat, maka orang mengatakan bahwa orang barat mempunyai peradaban yang tinggi, bukan kebudayaan yang tinggi.


C.    Sistem Nilai Budaya

                     Nilai adalah segala sesuatu tentang yang baik atau yang buruk. Nilai adalah segala sesuatu yang menarik bagi manusia sebagai subyek. Nilai adalah perasaan tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh.
                      Konsep-konsep  tentang  nilai yang hidup dalam alam pikiran  sebagian besar warga masyarakat,membentuk sistem nilai budaya.  Sistem  nilai budaya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia, dalam tingkatan yang paling abstrak. Sistem-sistem tata kelakuan yang  tingkatannya lebih konkrit, seperti aturan-aturan khusus, hukum, norma-norma, semuanya berpedoman pada sistem budaya itu. Sistem nilai budaya itu demikian kuat meresap dalam jiwa warga masyarakat, sehingga sukar ganti dengan nilai-nilai budaya lain dalam waktu singkat.
                         Ahli antropologi Kluckhohn, membagi sistem nilai budaya ke dalam lima masalah:
1.      Hakekat hidup masyarakat
2.      Hakekat karya manusia
3.      Hakekat kedudukan manusia dalam ruagan dan waktu
4.      Hakekat hubungan manusia dengan alam
5.      Hakekat hubungan manusia dengan sesamanya







                                       






                                        BAB V
                    MANUSIA DAN CINTA KASIH


A.    Pengantar
               
                    Kasih sayang sudah dikenal sejak lahir dan bahkan sejak anak ada dalam kandungan.kasih sayang berkembang seirama dengan perkembangan anak menuju kedewasaan. Dalam  hidupnya kadang-kadang kasih sayang ini ternoda oleh perbuatan-berbuatan keji yang berlawanan dengan perbuatan kasih sayang.
                     Cinta kasih orang tua terhadap anak itu adalah cinta yang disertai dengan kasih sayang.  Cinta kasih ini diberikan secara tulus dan ikhlas seolah-olah anak itu merupakan bagian dari dirinya sendiri. Seorang  anak yang tak pernah  mendapatkan kasih  sayang  dari orang  tuanya kemungkinan besar ia akan hidup liar.  Cinta yang dirasakan orang  tua terhadap anaknya didasar atas segi pengabdian dan segi kesukaan.
                     Kecintaan orang tua atau ayah dan ibu terhadap anaknya didasarkan atas kerapuhan hati, sebab orang tua mempunyai maksud tertentu terhadap anaknya, yaitu sukses dalam bimbingan atau pendidikan yang diujudkan dalam pergualan orang tua terhadap anaknya. Maka dari itu betapapun buruknya karakter maupun perbuatan orang tuanya,  namun cita-cita yang dibimbingkan kepada anaknya berujud pendidikan untuk menuju kepada ke ’’utama’’an.

B.     Pokok Bahasan
1.      Arti,Hubungan,Ungkapan Cinta Kasih
a.      Arti  Cinta Kasih


 Cinta kasih merupakan paduan dua kata yang mengandung arti psikologis yang dalam,  yang sulit didefinisikan dengan rangkaian kata-kata. Mungkin dapat diberi arti tertentu apabila sudah diwujudkan dalam tingkah laku manusia terhadap manusia lainnya, atau terhadap alam sekitarnya, atau terhadap Tuhan. Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan  yang  paling  sempurna dibandingkan dengan mahluk-mahluk lain. Manusia mempunyai akan, perasaan, kehendak. Dengan unsur-unsur budaya ini manusia menilai, merasakan, menghendaki adanya kebutuhan cinta kasih. Apabila cinta kasih itu tidak ada, atau tidak dibutuhkan, sulit  digambarkan  adanya masyarakat, sulit dibayangkan perkembangan manusia penghuni bumi ini, dan sulit adanya kedamaian diantara manusia.


b.      Hubungan Cinta Kasih
                Adanya beberapa macam hubungan cinta kasih yang dibekas dalam bab ini, yang dirinci sebagai berikut:
·         Cinta kasih antara orang tau dan anak. Apabila seorang ibu atau ayah selalu ingat, memperhatikan, dan memenuhi kebutuhan wajar anaknya, dikatakan bahwa mereka mempunyai rasa cinta kasih atau kasih sayang terhadap abak. Orang tua mengharapkan agar anak menjadi orang baik dan berguna kemudian hari.
·         Cinta kasih antara pria dan wanita. Apabila seorang pria perjaka menaruh perhatian istimewa  terhadap seorang  gadis dengan perlaku dengan baik, lemah, lembut, sopan, apalagi dengan memberikan seuntai mawar merah, dikatakan bahwa ia menaruh cinta kasih atau  kasih sayang terhadap gadis itu.
·         Cinta kasih antara  sesama manusia. Apabila seorang sahabat berkunjung ke rumah kawannya yang sedang sakit dan membawa obat yang diperlukannya  atau makanan yang diinginkannya, dikatakan bahwa sahabat itu menaruh cinta kasih atau balas kasihan terhadap kawannya yang sakit itu.
·         Cinta kasih antara manusia dan Tuhan. Apabila taat beribadah , menuruti perintah Tuhan,  dan menjauhi laranganNya, dikatakan bahwa orang itu mempunyai  cinta kasih atau mengabdikan kepada Tuhan penciptanya.
·         Cinta kasih manusia terhadap lingkungannya. Apabila  seseorang meciptakan taman yang indah, memelihara taman pekarangan, tidak menebang kayu di hutan seenaknya, tanah gundul ditanam kembali dengan teratur,  hewan lingkungannya tidak diburu atau dibunuh tanpa manfaat, dikatakan bahwa orang itu menaruh cinta kasih atau menyayangi lingkungannya.

c.       Ungkapan Cinta Kasih
            
                Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa cinta kasih adalah ungkapan perasaan yang diwujudkan dengan tingkah laku, seperti dengan kata-kata  atau pernyataan, dengan tulisan, dengan gerad, atau dengan media lainnya. Ungkapan dengan kata-kata atau pernyataan, misalnya Aku cinta padamu, tidurlah sayang, jauh di mata dekat dihati, cintaku di kampus biru. Ungkapan dengan tulisan misalnya surat cinta,surat ibu kepada putri tersayang. Ungkapan dengan gerak, misalnya salaman pelukan, ciuman dan rangkulan. Ungkapan media, misalnya setangkai bunga, benda sovenir dan benda kado. Ungkapan-ungkapan ini selain dalam bentuk nyata,  juga dalam bentuk karya budaya, misalnya seni suara, seni satra ,seni drama, film dan seni lukis.
                        Orang yang mempunyai perasaan cinta kasih, hidupnye penuh gairah, banyak inisiatif,  dan penuh kreatif  bagi seniman pelaku cinta kasih dituangakan dalam bentuk karya budaya, sehingga dapat dinikmati pula oleh masyarakat. Dengan demikian masyarakat dapat memetik nilai-nilai kemanusiaan yang terungkap melalui karya.

2.      Cinta Kasih Antara Orang Tua dan Anak

                           Cinta kasih ini bermula dari seorang itu terhadap anaknya. Seorang ibu yang sedang menyusui anaknya adalah gambaran tentang ketulusan dan cinta kasih. Tugas untuk mewujudkan cinta kasih yang tulus itu berlangsung lama, dan penuh pengorbanan. Apabila tugas terpenting keluarga adalah mengasuh dan membesarkan  serta  mendidik anak,  maka sebenarnya ibu adalah tokoh utama dalam unit sosial terkecil itu. Dalam hal ini, sorga di bawah kaki ibu adalah ungkapan ajaran agama yang menyatakan betapa penting peran ibu dalam tugas tersebut. Ibu membuktikan bahwa dunia ini membutuhkan cinta kasih dan ketulusan. Tanpa cinta kasih, keluarga akan goyah,masyarakatpun akan goyah. Demikian diungkapkan oleh Sapardi Djoko Damono.
                             Dalam hubungan cinta kasih antara ibu dan anak, sejak anak masih bayi sudah dapat merasakan kasih sayang ibunya melalui sentuhan tangan, pelukan, dan elusan ibunya, kemudian disusul dengan suguhan susu ibu.  Anak ditidurkan dengan diiringi lagu menidurkan.. pendidikan dalam diri anaknya. Di sini peran ibu cukup besar dan wajar.


3.      Cinta Kasih antara Pria dan Wanita  
                                  Cinta kasih antara pria dan wanita merupakantitik awal timbulnya keluarga sebagai unit masyarakat terkecil dan berkembang biak umat manusia di muka bumi ini. Cinta kasih antara pria dan wanita yang sudah dewasa  (akil balig)  merupakan kodrat yang tidak dapat dimunykiri, dan harus ada. Atas dasar cinta kasih ini timbul perpaduan hidup antara pria dan wanita yang harmonis dalam bentuk perkawinan yang dihargai oleh agama, hukum, dan oleh masyarakat.
                                   Cinta kasih yang lulus antara satu sama lain dalam ikatan perkawinan yang harmonis dilandasi oleh perasaan sayang. Kemesraan, yang merupakan kunci kebahagiaan. Apabila perkawinan itu dilandasi oleh kasih  sayang  yang  tulus dan ikhlas, kasi mengasihi, dan saling menumpahkan kasih sayang,  keluarga itu akan tumbuh subur dan berkembang sempurna. Dalam cinta kasih antara pria dan wanita ini kedua pihak dituntut tanggung  jawab, pengorbanan, kejujuran, saling percaya, saling mengerti, dan keterbukaan,  sehingga keduannya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh.

4.      Cinta Kasih antara Sesama Manusia
                      Cinta kasih antara sesama manusia dilandasi oleh rasa balas kasihan. Balas kasihan ini timbul karena ada penderitaan yang dialami manusia. Penderitaan ini mengandung pengertian yang luas, misalnya penderitaan karena bencana alam, bencana perang, karena sakit,  karena sudah tua,  karena yatim piatu,  dan lain-lain. Dalam cinta kasih berdasarkan belas kasihan ini tidak dikenal unsur pamrih, melainkan karena keikhlasan semata-mata, sifat ingin menolong sesama,  dan belas kasihan ini adalah sifat orang-orang
yang berakhlak dab berbudi.  Apa yang diderita orang lain,  ia ikut pula merasakan penderitaan itu.  
                          Cinta kasih yang dilandasi belas kasihan merupakan dasar untuk meniptakan kebersamaan, perdamaian, dan saling menghargai. Kebersamaan yang  kita maksudkan adalah kebersamaan secara kodrati, manusia diciptakan Tuhan dan dibekali dengan hak asasi yang sama. Dalam kebersamaan itu ada kesediaan dan ketulusan membantu, menyelamatkan manusia yang sedang dalam penderitaan. Apabila cinta kasih antara sesama manusia ini dihayati sungguh-sungguh oleh setiap insan, terutama yang berkuasa di muka bumi ini,maka tidak akan adaa perang, tidak akan ada kemeraratan dan kemiskinan.

5.      Cinta Kasih antara Manusiaa dan Tuhan
                            Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dan kehidupan manusia. Manusia adalah mahluk ciptaan Tuhan, karena itu manusia merasa takut kepada Tuhan. Jika manusia mengabaikan perintah Tuhannya, ia akan memperoleh murka. Untuk itu manusia menaruh cinta kasih kepada Tuhannya,  untuk wujud  cinta kasih kepada Tuhan ialah pengabdian  pemujaan atau sembayang. Dalam cinta kasih kepada Tuhan itu tersimpul keprasahan dan keikhlsan berserah diri bahwa pengabdian, pemujaan, sembayang semata-mata karena Tuhannya, karena Tuhan Maha Pencipta dan Maha Kuasa atas segala



BAB VI
MANUSIA DAN KEADILAN

A.    Pengantar     
                 
                Setiap mausia pastilah mendambakan keadilan,karena keadilan sungguh merupakan suatu yang sangat esensial di dalam kehidupan insane beradab. Begitu pentingnya keadilan dan begitu tinggi nilai keadilan itu, sehingga kata keadilan itu selalu diserangkaikan dengan kara keberanian. Perjuangan hidup manusia yang sangat penting adalah menegakkan keadilan dan kebenaran.
                  Semboyan itu pernah dipakai oleh orde baru, dan jauh sebelum itu, kita pun  telah  mengenal  menuju  masyarakat  adil dan makmur berdsarkan  pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab. Keadilan social bagi seluruh rakya  Indonesia. Memang, keadilan begitu tinggi nilainya bagi kehidupan manusia, sebab dengan terlaksananya  keadulan  itulah  manusia  bisa  benar-benar merasa bahwa dirinya adalah manusia.

B.     Keadilan
                 Dimanapun dan pada persoalan apapun dalam kehidupan manusia, keadilan  merupakan dambaan setiap insan. Tetapi kenyataanya lebih banyak orang  yang  mengatakan, bahwa dirinya telah berbuat adil tanpa melihat apakah adilnya itu telah dirasakan orang lain. Memang, keadilan itu lebih mudah diucapakan, tetapi sulit untuk dilaksanakan dan dirumuskan pengertiannya. Keadilan tidak saja dituntut dari manusia, kadang para umat pun menuntut keadilan dari Tuhannya.
1.      Pengertian Keadilan 
a.       Aristoteles
        Menurut Aristoteles keadilan adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara kedua ujunng ekstrem (diantara dua kutub), yakni ujung yang teralu banyak ujung  yang telalu sedikit. Kedua ujung ekstrem itu menyangkut dus orang atau benda. Bila dua orang itu mempunyai kesamaan dalam  ukuran yang telah diterapkan, maka masing-masih orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama. Kalau tidak sama, maka masing-masing orang akan menerima bagian tidak sama, sedangkan pelanggaran terhadap proporsi tersebut berarti ketidakadilan.

b.      Plato
       Plato  memproyeksikan  keadilan  pada diri manusia, sehingga orang dikatakan adil apabila orang itu mampu mengendalikan diri dan perasaanya dengan akalnya (dengan rasionya).
c.       Socrates
            Socrates memproyeksi keadilan pada pemerintahan. Menurut socrates, keadilan tercipta bilamana setiap warga negara telah merasakan , bahwa pemerintah telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Mengapa keadilan diproyeksikan pada pemerintah, karena pemrintah  adalah pemimpin pokok yang menentukan dinamika masyarakat masyarakat.
d.      Kong Hu Chu
             Kong Hu Chu berpendapat lain. Menurut dia,’’ keadialan itu terjadi apabila anak sebagai anak, bapak sebagai  bapak, dan raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya
e.       Charles E.Merriam
                 Charles E.Merriam dalam bukuna systematic politics menghubungkan dengan tujuan Negara. Menurut Merriam,’’ Keadilan terwujud dalam system di mana terhadap saling  pengertian dan prosedur-prosedur yang memberikan kepada setiap orang apa yang telah disetujui dan telah dianggap patut. Dari keadilan tersebut Merriam mengumpamakan adanys system nilai dalam hubungan individu di dalam mayarakat agar individu  setiap individu/setiap orang memperoleh bagianya berdasarkan nilai-nilai tersebut. Karena system nilai itu dipakai dalam kehidupan bernegera, maka keadilan sebagai nilai sering tidak dapat berjalan sebagimana mestinya. Untuk itulah dibentuklah penjaga keamanan dan keterbiban negara,seperti: kepolisian, militer, dan badan-badan peradilan/kehakiman badan penegak hukum. (contoh peristiwa : masalah jual beli tanah,  kontrak rumah,  dan lain-lain).
f.       Prof I.R. Poedjowojoto
                  Secara umum menurut prof  I.R. Poedjowojoto,’’ keadilan adalah pengakuan dan perlakuan terdapat yang sah’’ Disini  keadialan dihubungkan dengan gak,  karena hak itu merupakan wewenang dan bukan berwujud kekuatan,  tentu saja yang lemah tidak akan pernah menerima haknya.
g.      Keadilan menurut  Ajaran Agama
                    Agama mempunyai ajaran-ajaran tentamg keadilan. Pelanggaran terhadap salah satu atau sebagian besar terhadap larangan-larangan agama akan berakibat dosa, misalnya korupsi, menumpuk kekayaan yang sebenarnya hasil pengambilan tidak sah dari milik orang lain (terutama dari mereka yang lemah dan tidak tahu haknya). Pengadilan terhadap doa itu dilaksanakan di akhirat nanti. Namun bagi umat beragama dosa tersebut dirasakan sebagai hukuman yang lebih berat dibandingkan sanksi hukuman  pengadilan di dunia.
(contoh: Sinetron TV berjudul ’’Mahkamah’’)
h.      Keadilan dan Hasil Seni
                   Jelaskan bagi kita bahwa keadilan tidak dapat dipisahkan  dari kehidupan manusia. Itulah sebabnya  maka peristiwa-peristiwa keadilan dapat menimbulkan dava kreativitas para seniman untuk menciptakan karya seni, sehingga banyak kita jumpai hasil-hasil seni yang mengekpresikan keadilan.
                     Peristiwa keadilan juga sering kita lihat, kita dengar atau kita baca dari media massa, seperti:
1.      Mayat rerpotong-pc:onq di jakarta dan sukabumi
2.      Peristiwa sengkon den karta
3.      Proses pengadilan penyelundup kelas kakap
4.      Atau kemukakan contoh-contoh peristiwa yang baru terjadi.
2.Berbagai Macam Keadila
a.       Keadilan Legal atau Keadilan Moral
b.      Keadilan Distributif
c.       Keadilan Komutatif

3.      Keadilan sebagai Kebutuhan Naluri Manusia
      Jhon Locke mengemukakan bahwa manusia itu mempunyai hak-hak alamiah yang dimilikinya semenjak lahir. Hak alamiah ini:
1.      Hak akan hidup
2.      Hak akan kebebasan atau kemerdekaan
3.      Hak akan milik,hak akan memilik sesuatu


      Di antara ketiga hak alamiah itu yang terpenting adalah hak akan hidup. Dari hak akan hidup itulah kemudian muncul hak-hak yang lain,yang saat ini dinamakan hak azasi manusia. Masalah  keadilan selalu membicarakan sejauh mana individu itu mendapatkan hak-haknya sesuai dengan kewajiban yang telah dipenuhinya.
          Hak-hak yang timbul dengan adanya hak-hak azasi itu antara lain:
1.      Personal Right(hak azasi pribadi)
2.      Property Right (hak azasi ekonomi, hak memiliki sesuatu, hak membeli/menjual barang-barang miliknya dan lain-lainnya.
3.      Rights of  legal eguality (hak untuk memperoleh perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintah.
4.      Political Right (hak azasi, politik, hak untuk ikut serta dalam pemerintah, hak dipilih memilih dan lain-lain).
5.      Social and Culture Rights (hak utuk memilih jenis dan jenjang  pendidikan serta mengembangkan kebudayaan untuk disukai).
6.      Procedure right (hak untuk mendapatkan perlakuan ata tatacara peradilan dan perlindungan, misal penangkapan, penahanan, penggeledahan dan lain-lain).

                            Hak-hak azasi ini kemudian pada tanggal 10 desemeber     1948 ditulis dalam  piagam yang memuat 30 pasal diterima sebagai’’ Universal Declaration of  Human Right’’(pernyataan sedunia tentang hak-hak azasi manusia).
1.      Cornpetifo, yaitu sifat untuk behomba menguasai manusia yang lain,karena adanya rasa takut dan khawatir ia tidak akan mendapatkan pujian. Dalam hal ini dapat menggunakan cara apapun.
2.      Defentio, yaitu sifat untuk mempertahankan diri dari membela diri. Ini berarti bahwa manusia tidak suka dikuasai atau diatasi orang lain. Sifat membela diri ini merupakan cara dan jaminan untuk menyelamatkan dirinya.
3.      Gloria , yaitu sifat untuk dihormati , disegani dan dipuji : disamping  sifat-sifat lemah, serta takut mati, ingin memiliki sesuatu dan ingin mempunyai kesempatan untuk bekerja, agar dapat memiliki sesuatu. Adanya kelemahan manusia tersebut diatas, lebih-lebih rasa takut tersebut,membuat manusia mau diatur, dan mau dipaksa untuk berkumpul, membentuk satu masyarakat dan negara.

4.      Pengertian Keadilan Sosial

                        Sila kedua dari kelima dari pancasila merupakan serangkaian kata yang mempunyai arti tersendiri. Keadilan sosial mempunyai satu arti yaitu social justice, yang sangat eret behubungan dengan suatu isme, ajaran atau pandangan hidup. Kata keadilan sosial dan kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung makna gotong-royong, jadi tidak ada hubungannya dengan keadilan kumutatif atau keadilan distriburif, walau azasnya tetap bersumber pada pengertian keadilan seperti dijelaskan di depan.
                             Keadilan sosial pengertiannya juga untuk kepentingan sosial, kepentingan bersama, kepentingan komunal. Gotong-royong mempunyai arti suatu usaha bersama, pelaksanaan bersama atau mengerjakan suatu peranan bersama yang hasilnya dimanfaatkan untuk kemakmuran bersama. Di dalam suatu negara, kemakmuran bersama atau kesejahteraan sosial dan tercapai jika ada keadilan sosial.



                                 





BAB VII
MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB
                
A.    Pengantar

                Hidup manusia di samping sebagai mahluk Tuhan dan mahluk individu, juga merupakan mahluk sosial, hidup dalam lingkangan masyarakat. Di dalam interaksi sosial manusia diberi tanggung jawab, ia di samping  memiliki hak juga memiliki kewajiban, dituntut adanya pengabdian dan pengorbanan.
                  Seseorang mau bertanggung jawab karena adanya keasadaran atau adanya keinsyafan atau pengertian atas segala perbuatan atau akibat dari atas kepentingan pihak lain. Kesadaran atau keinsyafan manusia. Sebagai mahluk yang beradab dan berbudaya manusia menilai dan dinilai. Oleh sebab itu menyadari atau menginsafi atau mengerti bahwa perbuatan da akibatnya itu benar atau tidak benar,  patut atau tidak patut, baik, atau tidak baik, dilakukan pertimbangan-pertimbangan sebelum dilakukan
                   Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian hidup manusia, bahwa setiap manusia dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau bertanggung jawab maka ada pihak lain,yang memaksa tanggung jawab itu. Dengan demikian tanggung jawab iu dapat dilihat dan dua sisi, yaitu dan sisi pihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan pihak lain. Dan sisi pembuat ia harus menyadari akibat perbuatannya itu, dengan demikian tanggung jawab yang harus mengembalikan ke dalam keadaan yang baik. Dari sisi pihak lain akan mengembalikan (memulihkan) baik dengan cara individual maupun dengan cara memasyarakatan.


B.     Tanggung jawab
a.      Pengertian Tanggung Jawab
    Banyak konsep atau difinisikan atau batasan pengeran mengenai tanggung jawab antara lain:
Pengertian tanggung jawab menurut Ensikplopedi umum adalah’’ kawajiban dala melakukan tugas tertentu’’ Menurut WJS.Poewodarminto, tanggung jawab adalah : ’’suatu yang menjadi kewajiban (keharusan) untuk dilaksanakan, dibahas dn sebagainya’’. Sedangkan menurut Drs Suyadi MP dalam bukunya ilmu budaya Dasar, mengatakan : Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja, tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya’’.

     Dari segi filsafat, suatu tanggung jawab itu paling sedikit didukung oleh (tiga) unsur, yaitu:
1)      Kesadaran=cosciouness
Sadar berisi pengertian: tahu, kenal, mengerti dapat memperhitungkan arti, guna sampai kepada soal akibat dari pada sesuatu perbuatan atau pekerjaan yang dihadapi. Seseorang baru dapat dimintai tanggung jawab, bila ia sadar tentang apa yang diperbuatanya.
2)      Kecintaan=love, affestion
Cinta, suka menimbulkan rasa kepatuhan, kerelaan dan kesedihan untuk berkorban Contoh: cinta kepada tanah air.
3)      Keberanian=courage, bravery
Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Berani disini didorong oleh rasa keikhlasan, tidak bersikap ragu-ragu dan takut terhadap segala macam rintangan yang timbul kemudian sebagai konsekuensi dari tindak perbuatan. Karena adanya tanggung jawab itulah, maka seseorang yang berani, juga memerlukan adanya pertimbngan-pertimbangan, hitungan dan kewaspadaan sebelum bertindak; jadi tidak berlaku sembrono atau membabi buta. Dipikirkan terlebih dahulu dengani akal sehatnya.
2.      Macam atau jenis Tanggung Jawab
a.       Tanggung jawab terhadap diri sendiri
b.       Tanggung jawab terhadap manusia atau masyarakat
c.       Tanggung jawab terhadap lingkungan
d.      Tanggung jawab terhadap Tuhan
3.       Pengabdian
             Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran atau pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan mungkin kepada pemimpin, cinta, kasih sayang, hormat atau suatu ikatan dimana semuanya itu dilakukan dengan penuh  ikhlas.
               Pengabdian ini dapat berupa pengabdian yang kita tujukan kepada:
a.       Pengabdian  kepada keluarga
b.      Pengabdian kepada masyarakat
c.       Pengabdian kepada Negara
d.      Pengabdian kepada Tuhan


4.      Pengorbanan
              Pengorbanan berasal dari kata korban yang artinya memeberikan secara ikhlas dalam ujud-ujud tertentu seperti :harta, benda, waktu, tenaga pikiran bahkan mungkin demi nyawa cintanya atau ikatanya dengan suatu demi kesetiaan, kebenaran.
                Perbedaan antara pengertian pengabdian dan pengorbanan tidaklah begitu jelas. Karena adanya pengabdian tentu ada pengorbanan. Antara sesama kawan sulit untuk dikatakan pengabdian karena kata pengabdian mengandung dapat juga diterapkan kepada sesama kawan.
                  Pengorbanan merupakan akibat dan pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran, perasaan, bahkan dapat juga jiwa. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan.

5.      Kesadaran
                  Kesadaran adalah  keinsafan akan perbuatannya. Sadar artinya, merasa, tahu atau ingat (kepada keadaan yang sebenarnya), keadaan ingat akari dirinya, ingat kembali (dari pingsan), siumana, bangun dari tidur), ingat, tahu dan mengerti, misalnya rakyat telah sadar akan politik.
                   Jadi kesadaran adalah hati yang telah terbuka atau pikiran dan perasaan dimana telah terbuka tentang apa yang telah dikerjakannya. Namun dalam pengertian kesadaran dalam hal ini hanyalah dibatasi pada kesadaran moral ini sangat penting bagi kehidupan manusia. Hal ini tidak berarti bahwa kesadaran yang lain  tidak  penting  misalnya, kesadaran, berpolitik, kesadaran betapa pentingnya setiap orang dapat membaca,kesadaran mahasiswa akan belajar,kesadaran pergi kekantor tidak terlambat,kesadaran bekerja sebaik-baiknya, dan sebagainya. Kesadaran itu juga penting bagi manusia, karena tanpa kesadaran orang akan mengalami kepincangan dalam hidupnya.          







                  





BAB VIII
MANUSIA DAN PENDERITAAN

A.    Pengantar

                       Manusia selama hidupnya pernah mengalami perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan, tidak enak, rasa sakit dan siksaan ini disebabkan manusia mempunyai perasaan dan pikiran.  Pada umumnya perasaan-perasaan itu tidak dikehendaki oleh manusia, toh bila manusia dengan sengaja merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan misalnya rasa sakit itupun hanya sementara. Tujuan akhirnya adalah menghendaki perasaan yang menyenangkan. Perasaan-perasaan diatas merupakan rasa derita atau penderitaan.
B.     Penderitan
1.      Pengertian Penderitaan
                  Penderitaan mempunyai kata dasar derita yang berasal dari kata dhra (Bahasa Sansekerta), yang berarti menahan atau menanggung. Penderitaan adalah beban phisik atau jiwa manusia yang dapat menekan diri manusia. Pendapat Franklien J.Meine menyatakan bahwa penderitaan (suffering) adalah yang berhubungan dengan rasa sakit, yang tak menyenangkan hati, menderita rugi, dan suka menderita. Penderitaan didalamnya mengandung rasa sakit, siksaan dan nereka.
                    Penderitaan manusia dalam kehidupannya dapat disengaja atau tidak disengaja. Bagaimanapun penderitaan itu tidak menyenanccam, toh ada manusia yang secara sengaja untuk merasakan penderitaan. Misalnya sengsara dilakukan orang india dengan menyakiti tubuhnya sendrir sebagaimana ketaatan jiwa untuk memperoleh kebahagiaan setelah mati.

2.      Sumber Penderitaan
                        Manusia sebagai mahluk hidup mempunyai banyak dimensi yang semua dimensi  merupakan satu kesatuan utuh. Ini menurut pandangan monopruralisme, yang memandang manusia mempunyai banyak aspek sebagai satu kesatuan yang monodualis. Manusia mempunyai dimensi-dimensi kebedaan(alam), individu, sosial, jiwa, Tuhan dan sebagainya.
 Agar mempermudah untuk memahami hubungan dimensi manusia dan kebutuhan manusia, disini disederhanakan bebagai dimensi dan kebutuhan itu hanya dibedakan atas aspek kejasmanian (phisik), kejiwaan (psikis), dan sosial.
Sehingga kebutuhan manusia cukup dibedakan antara kebutuhan phisik, kebutuhan psikis, dan kebutuhan sosial.
1)      Kebutuhan phisik(basic needs) meliputi makana, minum, bernapas, pakaian, tempat tinggal, seks, kesehatan dan sebagainya.
2)      Kebutuhan psikis(psichologizal needs) meliputi keindahan, kenikmatan, moral, ilmu pengetahuan, religiosdan sebagainya.
3)      Kebutuhan sosial(social needs) meliputi pergaulan, kekeluargaan, persahabatan, berkelompok, berkomunikasi dan sebagainya.
                      Apabila dikelompokkan secara sederhana berdasarkan timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia itu dapat diperinci sebagai berikut :
a.      Penderitaan yang timbul akibat perbuatan buruk manusia
b.      Penderitaan karena penyakita
c.       Penderitaan akibat siksaan atau azab Tuhan
3.      Rasa sakit
                            Rasa sakit merupakan bagian dan penderitaan manusia. Rasa sakit adalah rasa tidak enak bagi penderitaanya. Rasa sakit dapat ditimbulkan karena adanya gangguan pada organ tubuh manusia atau karena suatu penyakit.
                              Rasa sakit dan penyakit dalam kehidupan  sehari-hari dapat dibedakan tiga macam, yaitu  sakit  phisik, sakit syaraf (jiwa) dan sakit hati. Ketiga penyakit bisa merupakan rangkian rasa sakit pada diri manusia.
a.      Sakit Phisik
b.      Sakit syaraf dan Jiwa
                
                      Baik sakit syaraf maupun sakitjiwa sering ditunjukan dengan gejala-gejala gangguan dengan simtoma penyimpangan perilaku manusia,simtoma-simtoma itu antara lain sebagai berikut:
1)      Gangguan pengamatan
Gangguan pengamatan merupakan kesalahan-kesalahan alam menggolongkan hasil-hasil pengamatan manusia terhadap dunia sekitarnya.
Gangguan pengamatan meliputi:
a.       Antenia
       Antenia adalah gangguan pada syaraf perabaan dalam menerima stimulus melalui kulit, misalnya tidak mampu merasakan panas, dingin, kehalusan.
b.      Agonosia
       Agonosia merupakan gangguan syaraf indera, sehingga mata tidak dapat berfungsi untuk melihat.
c.       Iilusi
Iilusi merupakan kesesatan persepsi dengan menerima bayangan atau kesan yang menyesatkan, misalnya fatamorgana di padang pasir dikira sumber air.
d.      Hallusinasi
Hallusinassi merupakan kesalahan pengamatan dengan mengkayalkan bayangan  seolah-olah ada stimulus, misalnya orang merasa dikejar-kejar orang lain,orang yang baru membunuh orang lain merasa dikejar-kejar almarhumnya.
e.       De ja vu
De ja vu merupakan pemalsuan ingatan sehingga keliru untuk mengingat  sesuatu kesan yang ada dalam jiwa.
f.       Jamais vu
Jamais vu merupakan ketidak mampuan syaraf dalam mengenal objek, misal karena kurang konsentrasi atau perhatian terpencar-pencar tidak dapat mengenali objek tertentu.
2)      Gangguan fungsi-fungsi jiwa
Gangguan fungsi-fungsi jiwa merupakan kesesatan-kesesatan yang terjadi dalam fungsi-fungsi jiwa ini antara lain:
a)      Gangguan pikiran yang lebih serius menjadi lingkungan, dimana seseorang tidak mampu berpikir cermat dalam menghadapi permasalahan.
b)      Gangguan ingatan
Gangguan ingatan sering disebut sakit ingatan yaitu orang mampu mengingat dan mengorganisir kesan-kesan yang tersimpan didalam jiwa.
c)      Gangguan kesadaran
Gangguan kesadaran merupakan ketidak mampuan mengendaliakan kesadaran diri, misal orang menyiksa orang lain atau berupa ekspresi luapan emosi.
d)     Histeria
Histeria merupakan pemberi response yang secara berlebihan tidak sesuai dengan stimulusnya, misalnya seorang wanita menjerit sekuatnya ketika melihat ular kecil.
e)      Gangguan fantasi
Gangguan fantasi terjadi dengan mengkayalan suatu obyek diluar kewajaran atau rasional, misalnya melamun.

3)      Sakit  hati
Sakit  hati  bermacam-macam penyebabnya serta bermacam-macam pula jenisnya dan sifatnya. Orang sakit hati akan berfikir terus dan akibatnya dapat menyebabkan sakit phisik. Manusia dapat menderita sakit hati karena setiap orang merasa mempunyai harga diri dan rasa iri serta dengki. Bila  harga dirinya diremehkan oleh individu lain, menyebabkan sakit hati. Misalnya diejek, tidak diperdulikan, dicacimaki.

4.Siksaan
              Siksaan merupakan sesuatu yang mengerikan. Karena kita membayangkan tindakan pihak yang kuat yang semena-mena terhadap golongan lemah yang tak berdaya. Siksaan sering menggunakan alat penyiksa yang menyayat hati. Siksaan dapat terjadi di dunia maupun di akherat yang disebabkan kesalahan,ketidakberdayaan atau dosa-dosa manusia.
5.Neraka
                Siksaan yang lebih mengerikan lagi adalah siksaan dari akhirat yang sering disebut siksaan kubur. Dalam kitab-kitab suci agama disebutkan dalam firmanNya tentang adanya kehidupan di alam baka (kelanggengan). Dimana dalam kehidupan ini manusia ditentukan oleh perbuatan baik atau buruk, pahala atau dosa ketika hidup di dunia fana. Sehingga manusia masuk dalam kehidupan surga atau neraka. Kehidupan di surga digambarkan suatu kehidupan yang penuh kenikmatan seperti disediakan tempat tidur yang serba empuk dihiasi emas dibawahnya mengalir air susu. Sebaliknya  kehidupan neraka digambarkan sebagai kehidupan yang penuh siksaan dan Tuhan Yang Maha Esa. Manusia tidak dapat melepaskan siksaan nereka kecuali kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
6.Cara mengatasi penderitaan
                 Setiap orang yang mengadapi penderitaan akan berusaha untuk melepaskan dirinya dari penderitaan. Seorang  pencuri yang tertangkap kemudia ditahan polisi, akan melepaskan dari tahanan bila tidak dijaga.
                 Dengan demikian cara menghadapi penderitaan dengan sikap positif dapat dilakukan dengan cara di bawah ini:
(1)   Penyesalan berbuatan
Seseorang sering menyesali perbuatan yang mendatangkan penderitaan,sehingga dia berjanji  pada diri atau orang lain tidak akan mengulangi perbuatan yang mendatangkan penderitaan. Seorang  ayah suka main judi yang berakibat  kalang  kabutnya rumah tangga,kemudian dia tidak mengulangi main judi kembali.
(2)   Bertaubat dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa
Manusia yang  banyak  melakukan dosa kemudian menyadari akan siksaaNya,kemudian bertaubat dengan sembahyang  malam hari atau meningkatkan ketaqwaannya kepada Tuhan
(3)   Inisiatif
Banyak  manusia yang menghadapi penderitaan, kemudian berinisiatif untuk menemukan cara melepaskan penderitaan. Keluarga petani miskin yang selalu menderita tidak tercukupinya kebutuhan keluarganya timbul inisiatif  untuk bertransmigrasi ke luar jawa.
(4)   Kompensasi
Kompensasi berarti menggantikan atau menutupi kelemahan yang menyebabkan penderitaan dengan memilih dan menggembangkan kegiatan sesuai dengan kemampuan dan kekurangannya. Banyak penderitaan cacat tubuh,misalnya lumpuh,buta,tuli dan sebagainya,mereka mengembangkan ketrampilan tertentu sebagai profesinya. Beberapa penderitaan tunanetra mempunyai ketrampilan pijat sebagai profesi keija untuk dapat hidup mandiri.
 Banyak faktor yang mempengaruhi untuk mengambil sikap negatif atau sikap positif dalam melepaskan penderitaanya,anatara lain faktor agama dan keimanan,ketabahan diri,ilmu pengetahuan,usia dan sebagainya.

                                  


                                           BAB IX
                       MANUSIA DAN KEGELIHAN


A.    Pengertian

                               Kegelisahan berasal dari kata ’’gelisah’’, artinya tidak tenteram hati, tidak tenang, tidak sabar lagi, merasa cemas dan khawatir.
                               Kegelisahan hanya dapat diketahatui dari gejala tingkah laku atau gerak-gerik seseorang dalam situasi tertentu. Gejala tingkah laku atau gerak-gerik itu umumnya lain biasanya, misalnya berjalan mundar mandir dalam ruangan tertentu sambil menundukan kepala; memadang  jauh ke depan sambil mengepal-ngepalkan tangannya duduk termenung sambil memegang kepalanya; duduk dengan wajah murung atau sayu, malas bicara; duduk, berdiri sambil menggelengkan kepala dan lain-lain.
                                Kegelisahan itu timbul karena perbuatan sendiri atau karena perbuatan atau keadaan dari luar diri manusia, yang  memberi pengaruh psikologis yang  merugikan terhadap harga kekayaan. Jiwa badanya martabat dan harga dirinya. Pengaruh tersebut tidak  hanya pada diri seseorang tertentu itu,malainkan dapat terjadi juga pada orang lain, pada keluarga, pada masyarakat luas, karena perbuatan atau keadaan tertentu, Bapak gelisah, Ibu gelisah, keluarga gelisah, tetangga ikut gelisah, bahwa masyarakat sekitar menjadi gelisah.

3.Kegelisahan
                      Keterasingan berasal dari kata’’terasing’’ artinya tersisih,terpisah,terpencil,dari pergaulan masyarakat baik-baik. Keterasingan artinya keadaan yang membuat tersisih. Terpencil dari pergualan masyarakat baik-baik. Yang menyebabkan orang berada dalam kerasingan itu ialah perilakunya yang tidak dapat diterima atau tidak dapat dibenarkan oleh masyarakat, atau kekurangan yang ada pada diri seseorang sehingga ia tidak dapat atau sulit menyesuaikan diri dalam masyarakat,

4.Kesepian
                       Kesepian berasal dari kata’’sepi’’ artinya sunyi, tidak ada orang, tidak ada apa-apa, kesepian artinya kesunyian, merasa sunyi, merasa tidak berteman,merasa tidak didampingi orang, merasa tidak punya apa-apa. Kesepian membuat manusia gelisah, karena menyentuh nilai-nilai kemanusiaan, harkat dab martabat manusia. Kesepian yang dimaksud disini adalah kesepian dalam arti psikologis yang dalam,yang sangat berpengaruh pada jalan hidup manusia.


BAB X
MANUSIA DAN HARAPAN

A.    Pengerian
                Setiap manusia yang normal mempunyai cita-cita atau harapan dalam hidupnya. Ini berarti bahwa ia ingin hidup dengan segala kesadaran ini membina hidupnya agar selalu meningkat martabatnya. Dalam istilah teknis psikologis hal itu disebut’’ merealisasikan diri (self relazation), artinya manusia berusaha mengembangkan dirinya, sehingga hidupnya selalu meningkat dan lebih baik serta dapat membatu memperkaya lingkungannya.
Harapan tidak mungkin mengandung arti yang negatif  seperti misalnya setiap semester harus ada mata kuliah yang tidak lulus sehingga tidak cepat-cepat pulang ke kampung halaman. Manusia dalam hidupnya selalu mempunyai pedoman yang dapat disebut filsafat hidup apapun hidupnya.
B.     Pokok Bahasaan
1.      Kebutuhan dan Harapan
 Selama masih hidup, semua orang selalu ada perasaan berharap. Tercapainya keinginan seseorang dapat ditempuh melalui beberapa macam cara, baik yang negatif maupun positif dalam arti tidak melanggar norma-norma agama, hukum maupun norma-norma msyarakat. Manusia yang tanpa harapan berarti manusia hidup dalam keadaan mati, sedangkan orang yang akan meninggal pun kadang-kadang mempunyai harapan dan biasanya berupa pesan-pesan kepada keluarga atau orang-orang yang paling dekat dihatinya. Apabila sesuatu hal yang dikehendaki oleh seseorang individu itu diperoleh dengan sangat mudah atau sebaliknya dapat menimbulkan suatu kehendak yang berupa harapan. Harapan yang sangat mendalam dapat menumbuhkan apa yang disebut keinginan. Harapan berasal dari kata harap, yang berarti keinginan sebelum sesuatu itu terjadi. Yang mempunyai harapan itu hati, jadi putus harapan berarti putus asa.
Mengenai kebutuhan individu, dapat dijabarkan sebagai berikut:
a.       Kebutuhan organik individu meliputi:
1)      Makan dan minum
2)      Istirahat dan tidur
3)      Sex
4)      Keseimbangan suhu
5)      Bernafas
6)      Buang hajat
7)      Dan lain-lain
b.      Kebutuhan psikologi individu, meliputi:
1)      Bersantai
2)      Kemesraan dan bercinta
3)      Kepuasan altruistik
4)      Kepuasan ego
5)      Kehormatan
6)      Kepuasan dan kebanggaan mencapai tujuan
7)      Dan lain-lain
2.      Percaya diri
Kemampuan yang mendukung usaha/perjuangan itu membangkitkan sikap “percaya diri”. Kemampuan itu meliputi kemampuan fikiran dan kemampuan fisik. Kemampuan fikir berhubungan dengan kemapuan yang diperoleh melalui pendidikan, sehingga dapat meramalkan dan merencanakan usaha yang akan dilakukan. Kemampuan fisik berkenaan dengan tenaga, baik tenaga sendiri maupun tenaga bantuan orang lain, dengan menggunakan alat bantu maupun tidak menggunakan alat bantuan (teknologi).
Kemampuan dan sikap percaya diri membuat manusia kreatif. Imajinatif penuh inisiatif. Sikap percaya diri ini menebalkan iman manusia kepada Tuhan, apabila kalau harapan itu terkabul atau berhasil. Tetapi kadang-kadang lain. Setelah harapannya tercapai, manusia lupa diri, takabur dan bahkan ingkar dengan kekuasaan Tuhan, dan sesumbar bahwa keberhasilan itu karena usaha sendiri. Di sini ternyata manusia telah memutuskan tali ikatan antara percaya diri dan kemampuan dengan Tuhan yang mengendalikan segala sesuatunya dari atas.
3.      Gairah Mengatasi Kesulitan
Harapan selalu dilatar belakangi oleh manusia kehidupan, fokusnya adalah kebutuhan hidup. Harapan pada dasarnya menginginkan kemakmuran dan kebaikan, yang dapat terwujud apabila disertai dengan usaha, sebab tidak semua harapan dapat dicapai dengan mulus, tetapi banyak rintangan dan hambatan yang menghadang dihadapannya.
Oleh karena itu untuk mencapai keberhasilan apa yang diharapkan kesulitan-kesulitan yang menghadangnya harus diatasi, dengan cara meningkatkan kemampuan, yang berarti memupuk sikap percaya diri dan membangkitkan gairah atau semangat kerja.
Cara meningkatkan kemampuan ini ialah:
1)      Banyak memperoleh informasi tentang keberhasilan orang-orang tertentu. Hal ini mendorong untuk berusaha keras dan membangkitkan gairah kerja yang memberi harapa.
2)      Banyak berkomunikasi, bekerjasama dan ikut serta dalam usahanya untuk memperoleh pengalaman dan keterampilan yang dapat dicontoh, sehingga memberi harapan.
3)      Mendengarkan dan menghayati nasehat-nasehat yang kontruktif, yang mengandung nilai-nilai moral  yang memperoleh keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga dapat memberi arah pada kehidupan yang lebih baik dan memberi harapan.
Harapan yang dirintis dengan kerja keras tanpa mengenal lelah, akan memberi hasil yang membahagiakan.

               
DAFTAR PUSTAKA

        Sudibyo, Lies MH, dkk. 2013. Ilmu Social Budaya Dasar. Yogyakarta : C.V ANDI OFFSET.